Dalam sebuah organisasi, khususnya organisasi kader, setidaknya terdapat dua hal yang bersifat mengalir dari suatu muara menuju sasaran yang tepat, yakni Ideologi dan Gagasan. Ideologi merupakan landasan pergerakan organisasi guna mencapai tujuan dari organisasi tersebut.
Dalam IMM, hal ini diwujudkan dalam bentuk AD/ART, hasil tanwir, mekanisme kerja serta hal lain yang bersifat ideologis. Adapun gagasan merupakan ide atas tindakan sebagai wujud nyata sebuah pergerakan. Dalam bentuk nyata, gagasan dapat diartikan sebagai kegiatan, program kerja ataupun suatu agenda baik yang terjadwal maupun kondisional. Dikarenakan kedua hal tersebut memiliki substansi yang berbeda, dimana satu sisi sebagai landasan pergerakan (pondasi), sementara sisi lain sebagai tiang pergerakan (penyangga), maka terdapat dua jalur sebagai pola distribusi kedua hal tersebut. Kedua jalur tersebut yakni :
Pertama : Top Down. Jalur ini merupakan pola distribusi dimana perjalanan dimulai dari atas turun sampai ke dasarnya. Secara struktural, hal ini berarti pimpinan mendistribusukan kepada anggota. Secara hirarki bermakna pusat mendistribusikan ke daerah, kemudian oleh daerah didistribusikan ke cabang, lalu di distribusikan ke komisariat ataupun melalui koordinator komisariat (Koorkom). Pola seperti ini biasanya digunakan sebagai pola distribusi sebuah ideologi. Oleh karenanya tidak tepat apabila pihak yang ada di atas mendistribusikan gagasan, karena dalam hal gagasan memang pihak yang di atas bersifat netral serta pasif. Sebaliknya untuk hal ideologi, pihak yang di atas seharusnya bersikap ideologis dan aktif.
Kedua : Bottom Up. Jalur ini merupakan pola distribusi dimana perjalanan dimulai dari bawah naik sampai ke puncaknya. Jalur ini merupakan kebalikan dari jalur Top Down. Berarti jalur ini secara struktural bermakna distribusi dari anggota kepada pimpinan, dan secara hirarki bermakna distribusi dari komisariat, ke cabang ataupun melalui koorkom, kemudian didistribusikan ke daerah sampai ke pusat. Pola seperti ini biasanya digunakan sebagai pola distribusi sebuah gagasan. Dalam pola ini, pihak yang di bawah (sebagai forum) merupakan sumber adanya distribusi. Jika tidak ada aksi dari pihak yang di bawah maka pihak yang di atas selayaknya tidak melakukan reaksi.
Dengan adanya pemetaan distribusi tersebut maka secara struktural maupun hirarki pihak yang ada di atas harus bersifat aktif menyampaikan ideologi, menjaring gagasan dan aspirasi pihak bawah serta menjadikan pondasi yang kokoh bagi organisasinya daripada organisasi lain di sekelilingnya dalam hubungan antar organisasi. Demikian pula pihak yang ada di bawah, baik secara struktural maupun hirarki berkewajiban berperan aktif menyampaikan gagasan serta terus menggulirkan roda organisasinya dengan agenda maupun aktivitas ringan sebagai bukti eksistensi sekaligus tegaknya tiang penyangga organisasi tersebut.
Biarpun dianggap aneh, yang pasti aq adalah orang yang anti dengan yang namanya alpukat. Bermula kejadian saat aku muda, dimana ketika aku diberi sekilo alpukat oleh seseorang, ternyata isinya penuh ulat dan belatung semua. Semenjak saat itulah aku menjadi orang yang phobia dengan alpukat. Jangankan memakannya, melihatnyapun aku tak mau. Akupun tak pernah membelikan ataupun membawakan alpukat untuk keluargaku tercinta. Memang putriku yang kini telah tumbuh menjadi gadis jelita aku penuhi dengan berbagai macam gizi dari buah-buahan, tetapi ada pengecualian, yakni alpukat. Suatu hari, putriku bertanya “Papa, Kenapa sich aku ga pernah dibelikn buah itu?” aku jawab “Buah yang mana, sayang?”. Kata dia “Ya itu, buah hijau yang biasanya dijual di toko buah pojok itu lho pa,”. Spontan aku jawab “Aduh putriku sayang, itu buah rasanya tidak enak, Lebih pahit daripada obat, pokoknya tidak enak sekali putriku,” kataku. “Lantas mengapa banyak orang yang membelinya, pa?” tukasnya. “Oh, itu karena mereka bodoh, putriku, mereka tidak tahu bahwa gizi di buah alpukat itu sangat sedikit, namun racunnya banyak, makanya papa ga pernah beliin buat kamu, karna buah itu beracun.”. “Oh, begitu ya pa?”. “Iya putriku,”. Keesokan harinya, aku bertemu dengan putriku di pasar buah ketika ia sepulang sekolah berjalan-jalan bersama temannya, sementara aku sendiri baru pulang kerja dan berniat belanja buah-buahan untuk keluargaku. Saat itu, putriku berdiri mematung sambil memegang buah alpukat. Kontan darahku mengalir ke ubun-ubun dan dipenuhi rasa marah karena segitu beraninya putriku memegangi buah yang paling aku benci tersebut. Seketika aku menghampiri putriku dan langsung menyeretnya keluar dari pasar buah tersebut, memisahkannya dengan kawan-kawannya, serta membawanya ke mobil. Di dalam mobil aku menggeledah isi tasnya, ternyata di dalamnya tidak terdapat buah alpukat secuilpun. Akupun sedikit merasa tenang karenanya. Namun yang sedar tadi aku tidak sadar adalah ternyata tangan kiri anakku saat itu menggenggam sebuah plastik berisi minuman yang sepertinya berisi es. Akupun bertanya kepadanya “es apa itu?”. “Bukan apa-apa koq pa, cuma jus buah.”. “Jus buah apa??” tanyaku dengan nada yang lebih tinggi. Perlahan ia menjawab “Jus Alpukat.”. Oh tuhan,,,
Agenda BHAKSOS telah lama usai. Rasa penat, letih dan aroma kambing sudah hilang. Meskipun begitu, selayaknya ada hal positif yang dapat kita rasakan dan jadikan kenangan. Salah satu hal positif yang dapat kita ambil adalah betapa kuatnya makna sebuah persatuan. Terdiri dari berbagai macam latar belakang dan kultur, anggota IMM Komisariat FAI mampu membawanya dalam sebuah persatuan melalui kebersamaan. Jika tidak adanya persatuan dan kebersamaan, tentu kita tidak akan mungkin dapat melaksanaka agenda bhaksos dengan lancar. Hal ini pula yang sejatinya turut membenarkan adanya agium yang menyebutkan bahwa kebersamaan adalah pangkal kesuksesan. Apapun hasil dari agenda bhakti sosial merupakan hasil yang diperoleh bersama. Tidak ada satupun alasan untuk mengklaim bahwa kesuksesan bhaksos dikarenakan keberadaan satu orang tertentu, apakah itu dari pimpinan maupun dari kepanitiaan. Demikian pula kekurangan yang muncul dalam agenda tersebut, tidak dapat kiranya dibebankan kepada satu pihak tertentu, baik itu kepada pimpinan maupun kepada kepanitiaan. Apapun yang terjadi adalah atas nama kita, karena IMM adalah milik kita semua. Jayalah IMM!!
Organisasi suatu kata yang sangat familiar dan sering diartikan sebagai suatu perkumpulan antara dua orang atau lebih yang memiliki suatu tujuan yang sama, dan jangan sampai ada anggapan bahwa organisasi hanyalah urusan dunia yang akan menghabiskan waktu untuk suatu perbuatan yang sia-sia, tak menghasilkan apa-apa, dan hanya mengganggu waktu belajar saja, sehingga tumbuh rasa malas untuk ikut organisasi, misalnya saja bagi seseorang yang masih berada dalam lingkungan pendidikan sebut saja perguruan tinggi, biasanya banyak sekali oraganisasi baik yang intra ataupun extra yang berada dalanm lingkungan kampus, dimana mahasiswa bisa memilih organisasi mana yang sesuai dengan kecondongan hati. Ketika seseorang sudah berada pada lingkungan kampus maka dia sudah bukan lagi anak sekolah yang seharusnya kegiatannya bukan hanya sekedar belajar dan belajar, kalau istilah ngetrennya kupu-kupu yaitu kuliah pulang, tapi hendaknya mahasiswa mempunyai kegiatan diluar kegiatan belajar dan kuliah, karena pada dasarnya mahasiswa membutuhkan wadah untuk berexpresi dan pengakuan akan existensi diri yang bisa ditunjukan lewat pemikiran-pemikiran yang brilian, prestasi-prestasi, tanpa semua itu mahasiswa bak bunga yang berada didinding yang keberadaanya hanya sebagai pemanis ruangan, alias menambah jumlah penduduk Indonesia yang memperoleh gelar sarjana setiap tahunnya yang kemudian dijadikan sebagai bukti oleh pemerhati pendidikan dan dianggap sebagai peningkatan mutu pendidikan dan semakin meningkatnya SDM penduduk Indonesia. Cogito ergo Sum begitulah perkataan Rene Descartes yang seharusnya lebih bisa memberikan motivasi untuk senantiasa menghasilkan suatu produk pemikiran sehingga kita bisa dikatakan ada dan tidak Wujuduhu Ka Adamihi. Disamping itu usia mahasiswa bukanlah lagi usia untuk menjadi anak mama, karena usia seorang mahasiswa yang rata-rata berumur 18 – 22 tahun merupakan usia di,mana ia sudah seseorang mulai punya keinginan mandiri dan lepas dari keluarga selain itu membentuk orientasi kelompok sebaya, dan pemilihan kelompik ini juga perlu diperhatikan, yaitu suatu kelompok yang bisa membawa dampak baik bagi pengembangan kepribadian seseorang. Ikut berkecimpung dalam organisasi sebenarnya selain mendapat pengalaman untuk mengembangkan diri, memiliki link yang luas dan masih banyaklagi manfaat lainnya, tapi lebih dari pada itu bahwa dengan ikut aktif dalam organisasi pada dasarnya kita juga sudah menjalankan perintah Allah sebagai mana yang termaktub dalam kitabullah “Dan adakanlah diantaramu sekelompok umat yang menyeru kapada islam yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkarang dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS Al Imran: 104)”. Dan bukankah ciri-ciri dari orang yang bertaqwa adalah orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, Apakah itu anda??? Semoga anda termasuk dari golongan orang –orang yang bertaqwa karena bagi mereka surgalah jaminannya. Dari QS Al Imran itu bisa ditarik benang merah bahwa Allah memerintahkan hambanya untuk mendirikan sebuah perkumpulan yaitu sebuah perkumpulan yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran atau kejahatan, karena pada dasarnya setiap perkumpulan bisa melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa, karena perkumpulan itu terdiri dari beberapa individu yang memiliki suatu kelebihan dan kekurangan yang berbeda dan jika kelebihan itu bisa disatukan maka dari situlah lahir kekuatan yang luar biasa yang Insya Allah bisa menutupi kelemahan yang ada, dan dalam kenyataan nya per kumpulan yang melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa itu bukanlah suatu perkumpulan yang bertujuan untuk kebaikan saja, tapi juga untuk keburukan, bahkan dalam aksi mencopet itu juga merupakan aksi yang terorganisir dengan baik dan ada pula pembagian job discription dan mereka bekerja secara rapi berdasarkan job description masing-masing, apakah anda mau dikalahkan oleh pencopet, yang nota bene merupakan kegiatan yang tidak baik dan terlarang??? Ali ra pernah berkata bahwa kebaikan yang tidak terorganisir bisa dikalahkan oleh kejahatan yang tidak terorganisir, memang tidak mudah untuk menciptakan suatu oraganisasi yang solid karena dalam suatu organisasi terdapat individu yang tak jarang memiliki pendapat yang berbeda atupun motivasi beror ganisasi yang berbeda pula, dan dari perbedaan tersebut bisa menimbulkan konflik yang berkepanjangan bila tak segera diatasi, sehingga bisa berakibat pada rusaknya kesatuan aksi dari organisasi itu sendiri, dan hal seperti inilah yang sebisa mungkin harus diminimalisir, karena jika dalam suatu oragnisasi sudah tidak ada lagi kesatuan aksi dari para personilnya maka bagaimana tujuan bersama bisa tercapai karena bagaimanapun oragnisasi terbentuk karena ada tujuan bersama dari beberapa orang. Dan tentu saja untuk mencapai tujuan itu tidak semudah membalikan telapak tangan dan kesuksesan itu tak kan pernah bisa diraih dalam angan-angan, tujuan yang besar maka hambatannya akan besar pula, hambatan sendiri bisa bersifat intern ataupun extern, pada dasrnya cara pandang terhadap suatu permasalahan itu juga berpengaruh terhadap kesuksesan suatu organisasi tersebut dalam meraih tujuan yang selama ini dicita-citakan. Ketakutan dalam mengahadapi hambatan dalam oragnisasi sehingga menimbulkan rasa malas untuk ikut mnerupakan pemikiran yang kerdil, karena tantangan dan masalah yang timbul dalam suatu tubuh organisasi hanyalah miniatur dari permasalahan yang ada dalam masyarakat, dan sekarang saatnyalah untuk berlatih untuk itu, so…. Take action dan mulailah berorganisasi!!!
“Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika baik maka baiklah semua tubuh, tapi jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa itu adalah hati” (HR Bukhory)
Urgensi masalah hati Begitu pentingnya hati, karena di sanalah tempat keimanan, keyakinan, harapan, takut, tawakkal, cinta, semangat, niyat dan seuruh amalan hati berada. Juga tempat kekufuran, keraguan, dan bisikan-bisikan jahat bersarang. Hanya hati yang selamatlah yang kelak pada hari kiyamat bisa mendatangkan manfaat kepada pemiliknya di saat harta dunia tiada berguna. Allah berfirman: “Sesunnguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggung jawaban” (QS Al-Isro’: 36) 1) Hati manusia itu ada yang hidup, ada yang mati, sehat dan ada juga yang sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh dan perkaranya. Hati yang sehat Indikasi hati yang sehat adalah adanya keinginan untuk berkhidmat kepada Allah, rindu untuk selalu taat kepada-Nya. Si empu hati hanya ingin satu harapan: selalu mentaati Allah. Yahya bin Muad berkata: barang siapa yang senang untuk berkhidmad kepada Allah, maka sesuatu akan senang taat kepadanya, barang siapa yang tentram dan sejuk berkhidmad kepada Allah, maka tentram dan sejuk pula hati semua yang memandangnya. 2) Ciri berikutnya; sangat bakhil terhadap waktu. Menyesal jika terbung sia-sia. Pelitnya terhadap waktu melebihi pelitnya kepada harta. Keinginannya untuk meraih manfaat sangat teramat tinggi. Orang yang memiliki hati yang sehat, tampak jika masuk waktu sholat. Hilanglah segala kesusahan terhadap dunia. Ia justru mendapatkan harapan baru, kelapangan, kesejukan, dan petunjuk hati dengan sholat tersebut. Dia tidak pernah letih berdzikir kepada Allah dan selalu ingin bersyukur kepada-Nya. Dia sangat takut untuk menyeleweng dan berpaling dari Allah. Ia mencurahkan hatinya dengan ikhlas, ridho, loyal, istiqomah, ittiba’, dan ihsan kepada-Nya. dia takut melalikan hak-hakNya. 3) Terapi agar hati sehat; 1. Membaca alquran Utsman berkata: andaikan hati itu bersih, niscaya kalian akan ringan untuk membaca al-Quran. 4) Dengan membaca Al-Quran seorang muslim mendapatkan cahaya petunjuk darinya, obat jiwa dan penawarnya yang penuh rahmat, sebagaimana Allah berfirman; “Wahai manusia, telah datang kepadamu nasihat dari tuhanmu (:Al-Quran) dan obat untuk di dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman” (QS. Yunus: 57) 5) 2. Dzikir Ibnu Taimiyah berkata: dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan, bagaimana keadaan ikan apabila keluar dari airnya? Demikian pula keadaan hati yang hampa dari dzikir kepada Allah, si empunya tentu blingsatan tak tentu arah, terombang-ambing hawa nafsu. Pertanyaannya; mengapa dzikir itu demikian penting? Karena dzikir adalah makanan pokok bagi hati, sedangkan kelalaian adalah petakanya. Bayangkan jika tubuh tidak pernah mendapat makanan pokok, bagaimana keadaannya. Demikian pula hati, jika tidak mendapatkan makanannya. Selain itu, dzikir dapat mengusir syetan dan menundukkannya. Dzikir adalah penyebab datangnnya kebahagiaan hati, kegembiraan, kelapangan dan cahaya. Dzikir adalah obat dari banyak jenis penyakit hati. Diriwayatkan bahwa seseorang datang menemui Imam Hasan al-Bashri dan berkata: aku mengadukan kerasnya hatiku. Maka Imam berkata: lunakkanlah ia dengan dzikir” Bukankah Allah berfirman: “Ketahuilah bahwa dengan dzikir hati bisa menjadi tentram” (Ar-Ro’du: 28) 3. Qiyamul lail Sesungguhnya Robbmu mengetahui bahwa engkau bangun (untuk sholat) kurang dari 2/3 malam, dan (ada kalanya) ½ malam, dan (ada kalanya) 1/3 malam” (QS Al-Muzammil: 20) 7) Apabila semua mata telah terlelap, Abdullah bin Mas’ud bangun dan terdengarlah dengungan bacaan sholatnya bagai suara lebah karena sholat malam sampai subuh menjelang. 8) Hasan al-Bashri ditanya: mengapa orang yang tahajjud malam itu wajahnya berseri-seri? Beliau menjawab: karena Allah hadiahkan sebagian berkas cahaya-Nya untuknya” Al-Hasan berkata: aku melakukan hanya 1 dosa, maka akupun terhalang untuk melaksanakan sholat lail. Maka ada seseorang yang datang kepadanya dan berkata: aku tidak dapat bangun malam, maka tunjukkanlah apa obatnya!” ia berkata: janganlah engkau bermaksiyat di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu di malam hari, insya Allah” Imam Sufyan Ats-Tsaury berkata: aku benar-benar terhalangi tidak bisa melaksanakan qiyamullail selama 5 bulan hanya gara-gara 1 dosa yang aku lakukan” Abu Sulaiman berkata: kelezatan malam hanya bisa dirasakan oleh mereka-mereka yang rajin sholat malam. Sungguh, andai saja tidak ada malam niscaya aku tidak ingin berlama-lama di dunia ini. Ibnul Munkadir juga berkata: kelezatan dunia ini tingggal 3 perkara: qiyamullail, berjumpa dengan kawan beriman, dan sholat berjama’ah di masjid kaum muslimin” 9) 4. Istighfar “Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang (QS Al-Baqoroh: 199)10) Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah dengan lisan dan biasaya diikuti dengan taubat, bahwa memohon ampunan Allah dengan anggota badan untuk tidak mengulangi kesalahan. Hasan al-Bashri berkata: perbanyaklah kalian akan istighfar di manapun dan kapanpun. Di rumah- rumah, di meja makan, di jalan-lajan, di pasar-pasar, di majlis-majelis kalian, karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ampunan itu datang” Dari Abu Hurairoh, bahwa rosulullah bersabda; “Demi Allah, aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 70X dalam sehari” (HR.Bukhori) 11) 5. Do’a Do’a merupakan nikmat yang besar, yang dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dimana Allah memerintahkan kepada mereka untuk berdo’a dan Allah langsung berjanji akan mengabulkannya. Bukankah ini sebuah kenikmatan? “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina”. (QS. Ghaafir: 60) Do’a memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama. Karena dengan do’a seseorang akan dibukakan pintu-pintu kebaikan dari apa-apa yang ia minta. Dan ditutup dari celah-celah keburukan. Karena hampir tiada seorangpun yang berdo’a kecuali pasti meminta kebaikan dan supaya dihindarkan dari kejelekan. Sehingga datanglah keberuntungan satu persatu, rejeki menghampiri silih berganti selama do’a tadi hanya dimohonkan kepada Allah saja. Allah maha dekat, Dia mendengar setiap untaian do’a hamba-Nya, berjanji akan mengabulkannya, dengan firman-Nya; “Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah Aku dekat, akan aku perkenankan do’a orang yang berdo’a kepada-Ku” (Al-Baqoroh:186) 6. Amalan-amalan sunnah yag lain. “Dan tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku cintai dari yang Aku wajibkan padanya, dan tidak henti-hentinya pula hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amalan yang sunnah-sunnah sehingga Aku mencintainya, maka apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia menggenggam dengannya, menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya, dan jika ia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan jika ia berlindung kepada-Ku maka Aku akan melindunginya” (HR. Bukhori) 15) Hati yang sakit Indicator hati yang sakit adalah suka bergelimang degan syahwat dan syubhat. Dan penyebabnya adalah suka mengkonsumsi racun; banyak memandang, banyak bicara, banyak makan, banyak bergaul. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya...” (Al-Baqarah:10) 16) Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. Sebab “Luka, tak akan dapat membuat sakit jiwa yang mati.” Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hati, berpengaruh pada semakin sulitnya ia menelan obat. Gejala penyakit hati adalah, ketika ia enggan memakan makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur’an. Masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As- sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat. 17) Sesungguhnya Allah berfirman: ”Katakanlah: “Al-qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbat, sedang Al-qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.” (Fushshilat: 44) 18) Al-qur’an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur’an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, 19) Hati yang mati “Apakah orang yang mati, maka Aku hidupkan dan Aku jadikan baginya cahaya yang dengannya ia bisa berjalan de tengah manusia sama seperti orang dalam kegelapan yang dia tidak bisa keluar darinya? Demikianlah aku hiasi bagi orang-orang kafir itu dengan apa yang mereka lakukan” (Al- An’am: 122) 20) Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi’at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk. 21) Sebagaimana yang Allah firmankan: “Mereka tuli, bisu, buta maka mereka tidak bisa kembali” (QS Al-Baqoroh: 18) 22) AKHIR KATA, semoga Allah menjadikan hati-hati kita selalu hidup dan sehat, dihindarkan dari penyakit serta kematiannya. Amiin.
“Cepat-cepatlah kalian beramal sholih (sebelum datang) fitnah seperti malam gulita. Seseorang pada saat itu pagi-pagi dalam keadaan beriman dan sore hari menjadi kafir, atau sore hari dalam keadaan beriman namun bangun pagi menjadi kafir. Dan menjual agamanya dengan harga dunia yang murah” (HR. Muslim)
Fitnah seperti malam gulita Syeikh al-Utsaimin memberi nasehat, bahwa agar kaum muslimin tetap memenuhi seruan taqwa kepada Allah di mana saja dan kapan saja. Sebab anjuran taqwa selalu disampaikan oleh rosulullah hampir dalam setiap kesempatan. Dan hendaknya waspada serta berhati-hati terhadap fitnah baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Berhati-hatilah terhadap hal-hal yang bisa memalingkan dari agamamu yang lurus ini. Baik berupa harta, keluarga, maupun anak-anak. “Dan ketahuilah bahwasanya harta-harta kalian, anak-anak kalian adalah fitnah, dan sesungguhnya di sisi Allah terdapat pahala yang agung” (QS Al-Anfal: 28) 2) Sudah tahu fitnah sebagai ujian, namun banyak yang tidak berhati-hati dengannya, dan acuh tak acuh. Betapa banyak yang justru cuek dengan fitnah, bahkan menjerumuskan diri ke dalam fitnah harta, anak-anak dan keluarga. Saking cintanya kepada harta banyak orang berani spekulasi, akhirnya terjerat korupsi, gara-gara cintanya akan anak dan istri banyak manusia terjangkit bakhil, terlibat kriminaitas. Maka berhati-hatilah akan fitnah! Berhati-hatilah di zaman yang penuh fitnah ini, yakni terhadap fitnah perkataan. Telah banyak orang-orang menjelek-jelekkan ulama’ dengan ucapannya, berceloteh dengan mudahnya tentang menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, menghujat kebenaran al-Qur’an dan As- Sunnah dengan ilmunya yang dangkal, lisannya banyak mengucapkan kebatilan, ghibah, namimah, dusta, kutukan dan sungguh ajaib jika sebagai lisan muslim. Takutlah pula akan fitnah amalan. Telah menyebarnya perselisihan, berpecah-belah dan bercerai berai, menjadi saling berkelompok-kelompok dan masing-masing kelompok berbangga diri dengan yang ada pada kelompoknya. Telah akutnya wabah cinta dunia, gila ketenaran, hasad, kedzoliman, dan beraneka ria kejahatan. Seorang muslim hendaknya mewaspadai perkembangan aqidahnya, menjaga diri dari kontaminasi pemikiran-pemikiran sesat, dari aqidah yang melenceng, dari seruan orang-orang yang menjungkir balikkan Islam dari kemurniannya, dan kesemuanya agar seorang muslim tetap mengembalikan urusan kepada Allah dan rosul-Nya, agar supaya beribadah dengan ikhlas karena Allah, serta sesuai dengan sunnah-sunnah rosulullah. Masih ucapan syaikh, kemudian waspadailah di zamanmu kini akan kenyataan yang buruk, karena semua itu bisa memalingkanmu dari agama dan dapat mendatangkan kehancuran bagimu. Sesungguhnya nabi telah mengabarkan kepada umatnya tentang kenyataan-kenyataan yang bakal terjadi sampai hari kiyamat. Dengan kasih sayangnya, nabi mengabarkan tentang fitnah-fitnah itu semua, bahwa fitnah itu meliputi segala hal, bagai gelapnya malam kelam yang artinya seorang muslim sulit keluar darinya. Maka kita diperintahkan untuk lekas-lekas beramal sholih, yaitu amal perbuatan yang bersesuaian dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pagi hari dalam keadaan beriman, sore hari menjadi kafir Dahsyatnya fitnah yang terjadi seakan-akan menjerat siapapun tak terkecuali, dan nyaris tiada yang mampu menghindari jeratannya yang membinasakan. Termasuk memalingkan keimanan menjadi kekafiran. Di antara yaitu; diangkatnya amanah dari pundak-pundak manusia, sehingga hampir tiada kita dapatkan orang-orang yang betul-betul menunaikan amanahnya. Rosulullah bersabda; “Seseorang tidur sejenak sehingga diangkatlah amanah dari hatinya, dan manusia terus malakukan bisnis jual beli, dan hampir tidak ada di antara mereka yang menunaikan amanah”, maka dikatakan: “sesungguhnya di tempat Bani fulan terdapat orang yang amanah dan dikatakan padanya; alangkah berakalnya dia, alangkah beruntungnya dia, alangkah kuatnya dia, alangkah baiknya dia, padahal di dalam hatinya tidak ada keimanan walau sebesar biji dzarroh” (Muttafaqun alaih) 4) Benarlah apa yang dikabarkan rosulullah, bahwa telah diambil sifat amanah dari hati manusia, sehingga kita saksikan suasana zaman yang banyak orang sudah tidak dapat dipercaya, yang dapat benar-benar diandalkan kejujurannya. Demikian pula dalam hal kepemimpinan, ia merupakan amanah yang besar, rosulullah bersabda; “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang digembalakannya” (HR. Bukhory) 5) Pemimpin yang adil dan sholih merupakan dambaan semua rakyat, yang tentunya ia adalah figur yang benar-benar faham terhadap hak dan kewajibannya, serta faham terhadap apa yang harus dilakukannya dalam membimbing, melayani, dan melindungi masyarakat lemah, yakni mengantarkan masyarakat yang mengikuti petunjuk kebenaran Islam, hidup aman sentausa, sejahtera, mentauhidkan Allah dan menjauhi kemusyrikan. Namun apa faktanya? Masih ada yang menjadikan manusia bak sapi perah, sementara yang lain menjadi lintah darat, yang diberikan hanyalah tauladan cinta materi, kesyirikan diagungkan, dan semakin membuat keimanan masyarakat gonjang-ganjing. Nabi mengabarkan tentang fitnah merajalelanya kebodohan, banyak diwafatkannya para ulama’ robbany, berpalingnya manusia dari ilmu yang bermanfaat, malah menekuni ilmu-ilmu yang hanya untuk mengumpul harta, dan melemahnya loyalitas keimanan. Sungguh ilmu telah dicabut dan kian sedikit para ulama’ hakiki. Padahal ilmu syari’at adalah ilmu yang bermanfaat, yang akan menjadikan pemiliknya menjadi suri tauladan dalam perkara kebaikan, kezuhudan, kewaro’an, qona’ah, syukur, ridho, ikhlas, sabar, tawadhu’ dan dalam mengikuti keutamaan-keutamaan rosulullah, para sahabat dan khulafaur rosyidin. Dengan demikian, nyatalah kondisi yang banyak manusia tidak lagi mengingkari kemungkaran, tidak taslim kepada kema’rufan, dan hanya berkutat pada pelampiasan hawa nafsu. Kelalaian menjadi kendaraan dan syetan sebagai jurumudi. Nabi mengabarkan tentang fitnah kerakusan, dan kekacauan. Beliau bersabda: Zaman telah mendekat, ilmu dicabut, muncul banyak fitnah, tersebar kebakhilan, banyak terjadi Al- Haraj. Para sahabat bertanya: “apakah Al-Haraj itu ya rosulullah ?” Rosulullah menjawab: “Pembunuhan” (Muttafaqun alaihi) “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiyamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, arak menjadi minuman biasa, zina semakin terang-terangan, jumlah kaum laki-laki menjadi sedikit, wanita menjadi banyak, hingga 50 waita berebut 1 pria” (HR. Bukhory) 7) Sungguh telah muncul beraneka fitnah dari berbagai sisi. Banyak munculnya pemimpin-pemimpin sufaha’ yang dipilih oleh orang-orang juhala’, banyaknya polisi (yang menandakan semakin banyaknya kejahatan), jual beli hukum, semakin banyaknya jumlah pasar-pasar hingga di trotoar- trotoar hingga penjual keliling, putusnya silaturahmi dan dijadikannya masjid untuk tempat nyanyian. Menjual agamanya dengan harga dunia yang murah Ketika zaman sudah mengutamakan sisi materi, budaya hedonisme dan determinisme menjadi sisi pandang hampir semua orang. Kemajuan dan kesuksesan hanya diukur dari sisi perolehan ekonomi. Bukan dari agama. Akhirnya agama tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang urgen, kalau perlu dikorbankan saja demi ekonomi, agama dijadikan kedok-kedok saja, jika menghalangi progress pribadi dijual saja. Maka tidak heran muncul celaan-celaan terhadap agama, bahkan datang dari kelompok yang mengatas namakan Islam. Banyak orang-orang yang memunculkan keragu-raguan di dalam Islam, dan menjadikan manusia berpaling darinya. Sehingga tercabutlah kecintaan para pemeluknya. Ini merupakan musibah yang besar. Suatu ketika Hudzaifah bertanya kepada rosulullah: “Ya rosulullah apakah setelah kebaikan Islam ini akan muncul kejelekan?” Nabi: “ya” Khudzaifah bertanya lagi: “apakah setelah kebaikan itu akan muncul kejelekan lagi?” Nabi: “ya”, dan di dalamnya ada Dakhn” Khudzaifah bertanya lagi: “apakah Ad-Dakhn itu?” Nabi: “suatu kaum yang mengambil sunnah bukan dari sunnahku, mengambil petunjuk selain dari petunjukku, kalian mengetahui hal tersebut dari mereka dan kalian mengingkarinya”. Khudzaifah bertanya lagi: “lalu apakah setelah itu akan muncul kejelekan lagi?” Beliau menjawab: “Ya, (yaitu) ada da’i-da’i yang berdiri di pinggir-pinggir pintu Jahannam, barangsiapa yang menerima ajakan mereka, akan ikut dicampakkan ke dalamnya”, lantaran sebab takutnya Khudzaifah bertanya lagi: “Gambarkanlah ciri-ciri mereka ya rosulullah!” rosulullah menjawab: ”mereka adalah orang-orang seperti kita dan berbicara dengan bahasa kita” (HR. Bukhory) 8) Kemudaian di antara fitnah yang besar adalah fitnah harta. Sangat sedikit manusia yang selamat dari fitnah ini. Hanya sedikit saja yang bisa mensyukurinya, yang sabar, yang bisa ikhlas, yang ridho, qona’ah, zuhud, dan dengan sebab yang halal dalam mendapatkannya, dan dengan cara yang benar dalam membelanjakannya. Sungguh telah tertanam pada diri manusia di akhir zaman terjangkit sifat bakhil terhadap harta, dan teramat tamak terhadapnya. Sehingga banyak di antara mereka yang menolak untuk membayar zakat dan nafkah wajib. Banyak orang yang serakah, yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapati sesuatu yang sebenarnya dia tidak berhak, membelanjakannya bukan pada jalan yang haq, maka muncullah kekacauan dan keributan di kalangan mereka. Banyak peperangan dan pembunuhan karenanya. Sungguh benar rosulullah, bahwa manusia tidak lagi memperdulikan tentang hartanya, dari mana mendapatkannya, sehingga seolah-olah mereka hidup hanyalah untuk mengumpulkan harta dan kesenangan-kesenangan belaka. Meski harus menghalalkan segala cara, entah syubhat entah riba’ entah apa, kalau perlu dengan cara berbuat curang, atau menipu, maling, pesugihan, korupsi, spekulasi, dan seterusnya. Sampai-sampai ada yang berprinsip; mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Wal-‘iyadzu billah. Manusia tidak lagi ingat bahwa Allah akan menghisab dan memintai pertanggung jawaban dari semua harta-hartanya. Maka berhati-hatilah wahai kaum muslimin. Waspadalah dari fitnah-fitnah ini semua yang selalu mengintai. Allah berfirman: Maka kecelakaanlah bagi siapa saja yang mengalami fitnah Dajjal, sebab ini adalah fitnah terbesar. kecuali yang tinggal di bentangan Makkah dan Madinah, yang jika dia mengelilingi bumi selama 40 hari, menyuruh langit hujan maka hujanlah, memerintah panas maka panaslah, 1 hari pada hari itu seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan dan sisanya seperti hari-hari biasa. Dia menjanjikan surga padahal hakikatnya neraka, serta mengancam manusia dengan siksanya padahal hakikatnya surga. 9) Solusi agar terlindungi dari fitnah Inti dari fitnah (:ujian) adalah menguji dan menyeleksi. Siapakah di antara semua manusia hamba- hamba Allah yang lulus ujian, siapakah di antara mereka yang tetap istiqomah dalam ketaatan kepada Allah ta’ala. Sebagaimana frman Allah; “(Dialah, Allah) yang menciptakn kehidupan dan kematian agar menguji kalian, siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya” (Al-Mulk:10) ‘Irbadz ibnu Sariyyah berkata: “jika zaman telah muncul dan menyebar api fitnah di sekelilingmu, maka cepat-cepat padamkan ia dengan taqwa”. Karena fitnah tersebut akan melibas semuanya. Dan sungguh mereka yang lulus ujian adalah yang tetap sanggup bertaqwa, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya; “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha menyaksikan” (QS Al-Hujurot:11) Fitnah juga berarti adzab dan bencana, maka rosulullah takut apabila angin bertiup kencang, apabila menyaksikan awan hitam bergulung-gulung, gerhana dan petir menyambar. Ketakutannya tampak pada wajahnya yang kemerah-merahan. Sebagaimana fitnah ini telah menghancurkan umat-umat terdahulu. Kaum ‘Aad yang diterpa angin kencang selama 7 malam 8 hari, kaum Tsamud yang disambar petir dari angkasa, kaum Nuh yang dibinasakan dengan banjir bandang, kaum Sodom yang hancur diterpa hujan batu, Fir’aun dan kaum yang ditenggelamkan. Dan seeterusnya.(Ket. QS. Al-Qomar dan awal QS. Al-Haaqqoh) Sebab lebih banyak manusia yang menyembah kepada selain Allah, dan apabila telah muncul kekejian demi kekejian, bencana demi bencana (di darat, air dan udara), serta tenggelamnya kebaikan demi kebaikan, maka kecelakaanlah bagi orang Arab maupun ‘Ajam jika kelak dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj walaupun sebesar lobang jemari tangan. “Dan takutlah terhadap fitnah yang tidak menimpa orang yang dholim di antara kalian semata, dan ketahuilah bahwa Allah memiliki adzab yang sangat pedih” (QS Al-Anfal: 25) 14) Fitnah akan terus ada sampai hari kiyamat nanti. Dan dengan kasih sayangnya rosulullah memberikan jalan keluar kepada umatnya agar terhindar dari fitnah tersebut. Yaitu sebagaimana yang kita baca setiap saat tahiyat akhir dalam sholat, yakni dengan meminta perlindungan kepada Allah dari empat macam fitnah, yaitu; fitnah api neraka jahannam, fitnah siksaan kubur, fitnah kehidupan dunia, dan fitnah kematian. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita dan kaum muslimin semuanya dari segala macam fitnah, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Dan semoga Dia membukakan bagi kita pintu-pintu kebaikan sehingga kita mengikutinya. Dan menunjukkan kepada kita pintu-pintu kejelekan sehingga kita bisa menjauhinya. Amiin.
Betapa bangganya kami ketika melihat dua buah trophy yang terletak diatas inviniserta dua buah figura yang didalamnya tertulis piagam penghargaan sebagai juara satu dan tigaCerdas cermat Immawati yang diadakan oleh PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya, dua benda yang tak pernah terbayangkan sebelumnya kinimenghiasi secret tercinta, sekret yang selama ini di pandang sebelah mata karena penataannya yang kurang memenuhi standard kerapian.
Kemenangan yang membuat kami merasa seperti mimpi dan seperti tertimpa durian runtuh, sekaligus membuat kami tak henti mengucap syukur, bagaimana tidak dari Komisariat mengirim dua regu yang dua-duanya masuk final, apalagi dengan regu lawan yang “wow”. Kebanggan ini juga bukan hanya milik kami jajaran pipinan IMM kom FAI tapi juga jajaran dekanat yang ikut bangga dengan prestasi yang kami raih, hal ini bisa terlihat ketika Bapak Drs Syu’eb M. Ag ( Dekan FAI UM-Surabaya ) mengunjungi teman-teman yang sedang bertugas menjaga tempat pendaftaran PMB, dan beliau mendapat informasi tentang kemenangan kami, beliau kaget bercampur bangga ( ya setidaknya itulah arti yang bisa kami tangkap dari mimik wajah beliau yang sendu dan menyejukkan ).
Dua regu dari Komisariat kami merupakan regu yang dianggap membuat kisruh, karena beberapa personil yang selalu aktif bertanya dan mengkritisi juri jika ada suatu kebijakan yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia yang telah tercantum dalam proposal yang kami terima. Diantara juri yang ada adalah mantan Ketum IMM Kom. FAI 2006-2007, Kakanda Dikky Syadqomullah, S.Hi. Hal ini menjadikan ketua Umum PC IMM Kota Surabaya sekaligus mantan Ketum IMM Kom. FAI 2007-2008, Kakanda Thoat Setiawan, S.HI cemberut dan terlihat ill feel terhadap kami, apa lagi saat detik-detik terakhir babak final dan penghitungan nilai ketika juri bertanya apa ada sesuatau yang ingin di katakana sebelum juri menetapkan juara I, II, dan III. Dengan nada bercanda dan memasang wajah polosnya salah satu dari kami langsung mengatakan “ kami terima kemenangan kami”seluruh audiens nyengir mendengar kalimat singkat yang keluar dari bibir mungilnya.
We are the winner , semoga kalimat singkat ini tidak dianggap sebagai kalimat kesombongan, karena hanya kalimat inilah yang mampu menggambarkan kebanggaan kami atas kemenangan yang kami raih, dan kemenangan ini juga tidak hanya membawa pengaruh intern ( Kom FAI ), tapi juga membawa pengaruh secara extern dimana namakomisariat kami lebih harum dimata komisariat-komisariat lain di lingup Surabaya, serta kami juga lebih di wong- kan oleh mereka, setidakanya hal inilah yang dikatakan oleh ketuaUmum IMM Kom FAI yaitu Immawan Gandhung Fajar Panjalu saat rapat persiapan Up-Grading dan Bazar, dia mengatakan bahwa karena kemenangan kita kemarin sekarang kita punya harga jual dimata komisariat-komisariat lain, dan ada juga peserta rapat yang langsung menyanggah bukan harga jual tapi harga tawar.
Ya, itulah expresi kebanggaan kami atas ni’mat yang telah Allah Anugrahkan kepada kami dan semoga hal ini tidak menjadikan kami menjadi orang yang sombong dan kufur atas ni’mat-Nya, dan janganlah kemenangan inilangsung menjadikan kita puas tapi kemenagan ini harus bisa menjadi motivasi bagi kita semua untuk semakin mengjharumkan nama komisariat FAI dengan prestasi- prestasi yang lebih keren. Satu pesan untukmengakhiri tulisan ini,” jangan pernah berhenti melakukan perubahan, SEMANGAT!!!”
Jum’at sore, bertepatan dengan langit akhir bulan juni 2009, Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FAI mengadakan pelatihan administrasi dan Kepemimpinan. Hal ini dikarenakan perlunya suntikan bagi segenap jajaran Pimpinan Komisariat IMM FAI UMSurabaya untuk mengetahui tugas, wewenang dan kewajiban bagi setiap bidang. Selain itu juga untuk mensosialisasikan kepada seluruh jajaran IMM FAI tentang mekanisme kerja ikatan yang telah disahkan dan dijadikan landasan pergerakan IMM FAI. Sebagaimana tercantum, dalam proposal kegiatan, agenda ini dihadiri 42 orang, lebih banyak 2 orang daripada proposal yang ada. Peserta berasal dari segenap jajaran IMM FAI sendiri, ditambah IMMawan/wati dari komisariat lain se-Universitas Muhammadiyah Surabaya. Hal ini membuktikan adanya hubungan baik dan cukup dekat antara IMM FAI dengan Komisariat lain dalam lingkup Univ. Muhammadiyah Surabaya.
Dalam agenda tersebut, dua pemateri dihadirkan. Pemateri pertama adalah IMMawan Reza yang menjadi Sekbid Organisasi DPD IMM Jawa Timur. Sebagai alumni IMM Cabang Kota Surabaya, mayoritas IMMawan/IMMawati FAI sudah mengenal dan cukup tahu kapabilitas IMMawan Reza dalam menyampaikan suatu materi. Dengan dimoderatori oleh IMMawati Nur ‘Aini, materi manajemen Organisasi mulai disasmpaikan. Cukup banyak ilmu baru yang didapatkan dalam materi tersebut. Sayangnya, materi kali ini tidak dilengkapi dengan Hand Out yang membuat para peserta harus mencatat kembali apa yang disampaikan pemateri. Keluhan peserta dalam materi ini terletak pada kesiapan pemateri dalam menyampaikan materinya, terlihat dari cara penyampaian materi yang cenderung kurang sistematis, juga terlihat dari kurang tegasnya pematyeri dalam menyampaikan masalah yang terkait masalah kebijakan lokal komisariat yang berbeda dengan AD-ART.
Materi dan Pemateri kedua tak kalah nyentriknya. Dimoderatori oleh IMMawan Abdurrahman, pematyeri kedua yang merupakan Kabid Organisasi DPD IMM Jawa Timur menyampaikan materinya. Dalam materi kali ini, peserta sebenarnya ingin tahu tentang AD ART dan Pedoman Administrasi IMM yang baik dan Benar. Sayangnya, apa yang disampaikan pemateri cukup jauh dari apa yang dibayangkan peserta. Pemateri malah memaparkan tentang Tujuan organisasi dan Pentingnya berorganisasi. Dalam materi ini, pemateri memberikan hand out berupa AD-ART kepada peserta. Sayangnya, AD ART yang diberikan itu merupakan AD-ART IMM tahun 2003. Hal yang menjadikan kekecewaan peserta dalam materi ini adalah dikarenakan pemateri tidak menyinggung sedikitpun mengenai pedoman administrasi IMM. Selain itu pemateri yang seharusnya mencintohkan disiplin organisasi yang baik justru mengabaikan hal tersebut dengan banyaknya menggunakan dialek dan bahasa jawa dalam materinya. Padahal pemateri sudah berkali-kali diingatkan oleh salah satu peserta yang kebetulan berasal dari madura yang otomatis tidak memahami apa yang disampaikan pemateri dalam bahasa jawa tersebut. Bahkan ada seorang peserta yang lantas mengomentari apa yang disampaikan pemateri dalam bentuk pertanyaan yang ia sampaikan menggunakan bahasa jawa juga.
Selesai materi kedua, Peserta dipersilahkan oleh panitia untuk menikmati hidangan malam. Meski bukan berupa “Candle Light Dinner” yang romantis, namun tampaknya peserta sangat menikmati hidangan tersebut.
Di akhir acara, panitia menggunakannya sebagai Forum Komunikasi antar Komisariat yang isinya justru merupakan luapan kekesalan dari sekuruh peserta terkait masalah materi yang ada.
Demikian sekilas kisah mengenai agenda Pelatihan Manajeman Administrasi IMM yang telah kami laksanakan. Harapan kami, agar agenda ke depan benar-benar selektif dalam mengundang pemateri. Jangan sampai terlena dengan jabatan yang melekat padnya. Meskipun ia berasal dari pimpinan pusat sekalipun, jika ternyata kemampuannya dibawah standar maka tak ada gunanya kita mengadakan agenda tersebut, kecuali hanya menghabiskan waktu, biaya dan tenaga tanpa sedikitpun manfaat yang dapat kita terima.
I. Prolog Mengutip kata pepatah lama, tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, warna hidup kitapun berganti. Pernah kita alami warna merah dan putih mendominasi pakaian kita, yang kemudian digantikan dengan biru putih lantas dengan abu-abu-putih. Pla pikir yang kita rasapun sedikit demi sedikit terjadi perubahan yang kian menanjak. Hingga akhirnya tibalah kita pada saat ini dimana telah kita tinggalkan kenangan itu dan kita tanggalkan seragam itu. Kini satu predikat lagi yang menempel dalam diri kita, yakni “Mahasiswa”. Namun sudah siapkah kita guna menyandang predikat yang tidak gampang tersebut?. Hal itu terletak pada sejauh mana kita dapat mengetahui serta membedaan antara jenjang yang telah kita lalui dan jenjang yang akan serta sedang kita jalani, atau lebih tepatnya sejauh mana kita mengetahui perbedaan antara siswa dengan mahasiswa. Banyak diantara mahasiswa baru atau bahkan mahasiswa lama yang kurang memahami hal ini sehingga kurang dapat memposisikan dirinya pada tempat yang selayaknya. Ia terkadang tidak tampak sebagai mahasiswa bahkan cenderung seperti preman saat dia melakukan anarki dan kejadian yang menyulut kekerasan yang lain.
II. Memang Beda Jika kita telusuri perbedaan yang terdapat diantara keduanya, maka kita akan mendapati setidaknya 4 perbedaan berdasarkan tinjauan yang kita gunakan yakni 1. Tinjauan Pustaka Secara pustaka, keduanya jelas berbeda. Siswa dalam banyak perspektif dimaknai sebagai pelajar di tingkatan Sekolah Dasar hingga Menengah, terlepas dari pendidikan non formil yang bisa saja menyebut pelajarnya dengan sebutan apapun. Ketika telah melewati jenjang tersebut, maka predikat yang ia sandang bukan lagi siswa melainkan Mahasiswa. 2. Tinjauan Historis Dari segi sejarah, ada hal yang cukup unik tentang perbedaan diantara keduanya. Contohnya yakni pada era penjajahan belanda dimana pendidikan yang paling banyak dilakukan oleh penduduk adalah SR (Sekolah Rakyat). Sedikit sekali diantara mereka yang bisa sekolah di jenjang atasnya kecuali orang tersebut memiliki kelebihan ekonomi. Apalagi untuk mencapai sekolah kesarjanaan. Baru pada pasca sumpah pemuda, kita merasakan pendidikan yang lebih baik. 3. Tinjauan Fisik Jelas, seiring berbedanya jenjang usia maka perbedaan fisik juga menjadi akibat dari hal tersebut. Siswa cenderung memiliki postur tubuh yang lebih kecil dikarenakan faktor usia. Namun tidak jarang kita menemui orang dengan kecacatan fisik dimana usia yang ia miiki relativ banyak namun memiliki postur yang tidak seberapa atau bahkan kurang dari rata-rata. Sebenarnya tinjauan ini tidak perlu saya sampaikan, namun agar tampak objektif maka saya coba untuk mengugkapkannya di sini. 4. Tinjauan Psikologis Selayaknya, mahasiswa dapat berfikir secara lebih matang daripada siswa. Karena bertambahnya usia, pengetahuan dan pengalaman membuat pola pikirpun bertambah maju. Dalam kondisi tertentu dimana akal sehat sudah tidak lagi menjadi senjata utama, kita sering menemui sosok mahasiswa yang masih berfikiran kekanak-kanakan. Proses pendewasaan yang kurang tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor seperti lingkungan, keluarga, atau bahkan dikarenakan hal yang bersifat pribadi sehingga ia merasa nyaman dengan gaya kekanak-kaqnakannya. Sikap yang seperti ini memang kadang diperlukan, namun ketika menghadapi masalah yang kompleks hal tersebut sama sekali tidak diperlukan bahkan cenderung negatif apabila kita lakukan dalam kondisi itu.
III. Penutup Dari paparan singkat tersebut diatas akan dapat kita tarik kesimpulan bahwa jelas terdapat perbedaan diantara keduanya. Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dan kita dapat mengerti pada posisi mana kita berada sehingga perilaku kita benar benar sesuai hal yang harus terjadi. Maka semoga kita dapat menumbuh kembangkan organisasi yang kita ikuti, dan semoga setiap gerak dan perjuangan kita diridlai Allah SWT, Amin
Bagi banyak pemikir, kehidupan sesungguhnya adalah belajar. Dari pelajaran itulah kita akan menemukan sebuah perubahan yang berarti pada diri yang disebut revolusi.
Saya teringat pada acara Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan IMM Koorkom UMSurabaya tanggal 20 sampai 22 Maret 2008 beberapa waktu lalu ketika menulis esai ini. Pada saat sesi “Meneropong Masa Depan”, teman-teman kader baru IMM di kelompok saya (yang berjumlah 10 orang) memberikan segenap unek-uneknya tentang rencana masa depan mereka pasca DAD ini. Ada banyak hal yang mereka pikirkan dan mereka ungkapkan selepas acara DAD maupun jauh beberapa tahun ke depan. Terasa indah mendengar, membaca dan merenungi apa yang mereka rencanakan; mengenai cita-cita, harapan dan mungkin mimpi-mimpi yang mesti mereka wujudkan. Dalam ranah keagamaan, kebanyakan dari mereka menginginkan menjadi aktivis Muhammadiyah yang akan membela perjuangan Islam khususnya Muhammadiyah; menegakkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. IMM bagi mereka merupakan sebuah sarana seumpama jembatan yang akan mengantarkan mereka kepada cita-cita Muhammadiyah. Melalui IMM mereka tahu tujuan IMM yang selaras dengan tujuan Muhammadiyah. Dalam kehidupan pribadi, IMM dapat menjadi kawah candradimuka yang akan membekali mereka dalam kehidupan selanjutnya; menjadi pribadi yang mumpuni dalam keluarga dan menjadi makhluk sosial yang berkualitas. Selebihnya IMM adalah ladang pembelajaran untuk mematangkan bagaimana cara untuk berda’wah amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat. Dari segelintir mimpi-mimpi kader tersebut saya dapat memberikan gambaran seperti apa peranan dan manfaat IMM bagi mahasiswa khususnya mahasiswa yang tergabung dalam IMM sendiri. IMM merupakan wadah untuk belajar tentang organisasi, berfikir intelek dan berakhlak mulia, dan mendidik mahasiswa untuk siap terjun dalam masyarakat kelak.
Maslahat atau Mudharat? Fenomena yang banyak terjadi dari dulu hingga sekarang, mahasiswa yang terlalu aktif di organisasi tertentu sampai jarang kuliah, maka biasanya IP bisa diramal sebelum pengeluaran KHS – sama seperti murid SD yang tak pernah mau belajar meski ia bukan murid yang cerdas. Padahal, mungkin sekali IP dan ijazah tidak akan memberikan apa-apa tanpa kesadaran emosional (Emotional Quotient) dan kesadaran spiritual (Spiritual Quotient) yang tinggi. Kehadiran di bangku kampus terbukti tidak memberikan apa-apa tanpa rasa suka untuk kuliah, dan hal ini tidak pernah benar-benar dihargai oleh kebanyakan orang yang mengakui dirinya sebagai ahli pendidikan. Dengan mengikuti organisasi tertentu secara tidak langsung telah memberikan poin yang lebih bagi pembelajaran, sayangnya poin ini jarang sekali kita perhatikan. Kita seringkali menganggap keduanya berbeda. Di dalam buku-buku accelerated learning disebutkan bahwa seseorang akan mampu mengingat dengan lebih baik apabila ia merasakan langsung manfaat dari sebuah pelajaran, bagaimana kemudian sesuatu yang ia pelajari berlaku pada konteks dunia nyata. Seseorang juga akan belajar lebih banyak hal apabila dia berinteraksi dengan orang lain dan secara berkesinambungan mempertahankan hubungan tersebut. Dia akan mampu menghubung-hubungkan berbagai hal yang dipelajarinya dengan banyak bidang. Begitulah cara Einstein berpikir. Seorang mahasiswa akan lebih banyak belajar jika ia mampu berinteraksi dengan baik dengan dunia di luar kampus, apakah itu realitas sosial maupun alam semesta. Melalui organisasi kampus seperti juga IMM, mahasiswa dapat belajar bersosialisasi dengan dunia di luar kampus, dunia sesungguhnya. Mengesampingkan ego, idealitas, dan sikap intelek yang berlebihan. Interaksi sosial yang baik akan sangat menolong mahasiswa selepas ia menanggalkan almamater kampusnya ke tengah masyarakat. Inilah sesungguhnya belajar yang manusiawi, belajar dalam universitas kehidupan. Belajar yang manusiawi sesungguhnya merupakan hak asasi setiap manusia. Dengan belajar diharapkan seseorang akan mampu menjadi manusia yang memenuhi tiga kodratnya, sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Ketiga dimensi ini yang kemudian tergambar di dalam tiga bentuk kecerdasan yaitu IQ, EQ, dan SQ. Dalam konteks individu, seseorang tidak akan pernah berbuat banyak terhadap hal-hal yang bermanfaat di dalam hidupnya jika ia tidak pernah mengimplementasikannya di dalam kehidupan sosial. Kehidupan organisasi yang telah dilalui ketika menjadi mahasiswa akan lebih berarti untuk mengembangkan potensi dirinya di masyarakat.
IMM bagi Mahasiswa Umumnya Pada ranah yang lebih luas – dalam realitas gerakan mahasiswa saat ini – boleh dikatakan IMM kurang dikenal di kalangan masyarakat luas. Hal ini karena peranan IMM di masyarakat masih sangat kurang. Bahkan di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah sendiri, tidak sedikit mahasiswa yang mempertanyakan apa peranan IMM untuk kampus. Artinya, peranan IMM baik di internal kampus maupun di luar kampus saat ini masih dipertanyakan. Gerakan IMM masih lebih terfokus pada lingkaran terkecil; internal organisasi. Sebenarnya, melalui tri kompetensi dasar-nya IMM harus dapat memberikan peranan yang signifikan bagi mahasiswa, persyarikatan (dalam hal ini Muhammadiyah), dan masyarakat. Sebagai organisasi underbo Muhammadiyah, maka gerakan kader ini harus mampu memberikan kontribusi bagi mahasiswa untuk dapat ber-amar ma’ruf nahi munkar berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan tujuan IMM yaitu mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Diah K., Aktivis IMM Kom. FAI UMSurabaya dengan beberapa tambahan dari Bayu Satria, immfaiuad, WordPres.com
PENDAHULUAN Kepemimpinan (Leadership) merupakan hasil organisasi sosial yang telah terbentuk atau sebagai hasil dinamika interaksi sosial. Sejak mula terbentuknya suatu kelompok sosial, seseorang atau beberapa orang di antara warga-warganya melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rekannya, sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebih menonjol dari lain-lainnya. Itulah asal mula timbulnya Kepemimpinan (Leadership)1, yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur sosial yang kurang stabil. Munculnya seorang pemimpin sangat diperlukan dalam keadaan-keadaan di mana tujuan kelompok sosial yang bersangkutan terhalang atau apabila kelompok tadi mengalami ancaman dari luar. Dalam keadaan demikian agak sulit bagi warga kelompok menentukan langkah-langkah yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Muncullah seseorang yang mempunyai kemampuan menonjol yang diharapkan akan menanggulangi segala kesulitan-kesulitan yang ada. Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok. Apabila saat tersebut muncul seorang pemimpin, maka kemungkinan besar kelompok-kelompok tersebut akan mengalami suatu disintegrasi. Tidak munculnya pemimpin tadi adalah mungkin karena seorang individu yang diharapkan akan menjadi pemimpin ternyata tidak berhasil membuka jalan bagi kelompok untuk mencapai tujuannya dan dengan begitu kebutuhan warga tidak terpenuhi.
DEFINISI KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) Kepemimpinan (Leadership) (Leadership) adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Ada 2 macam Kepemimpinan (Leadership) yaitu Kepemimpinan (Leadership) sebagai kedudukan dan Kepemimpinan (Leadership) sebagai suatu proses sosial. Sebagai kedudukan, Kepemimpinan (Leadership) merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Sebagai suatu proses sosial, Kepemimpinan (Leadership) meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau sesuatu badan yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat. Kepemimpinan (Leadership) ada yang bersifat resmi (formal Leadership) yaitu Kepemimpinan (Leadership) yang tersimpul di dalam suatu jabatan. Ada pula Kepemimpinan (Leadership) karena pengakuan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalankan Kepemimpinan (Leadership) (informal Leadership) bersifat tidak resmi. Terdapat suatu perbedaan antara Kepemimpinan (Leadership) resmi dan Kepemimpinan (Leadership) tidak resmi. Adalah Kepemimpinan (Leadership) resmi di dalam pelaksanaannya selalu berada di atas landasan-landasan atau peraturan-peraturan resmi, sehingga dengan demikian cakupannya terbatas. Kepemimpinan (Leadership) tidak resmi, mempunyai ruang lingkup tanpa batas-batas resmi, karena Kepemimpinan (Leadership) demikian didasarkan atas pengakuan dan kepercayaan masyarakat. Ukuran benar tidaknya Kepemimpinan (Leadership) tidak resmi terletak pada tujuan dan hasil pelaksanaan Kepemimpinan (Leadership) tersebut, menguntungkan atau merugikan masyarakat. Walaupun seorang pemimpin (yakni yang melaksanakan Kepemimpinan (Leadership)) yang resmi tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturan resmi yang menjadi landasannya, akan tetapi dapat melakukan kebijaksanaan yang dapat memancarkan kemampuan mereka sebagai pemimpin. Kepemimpinan (Leadership) yang tidak resmi dapat digunakan pula di dalam suatu jabatan resmi dan tentu saja lebih leluasa di dalam masyarakat yang belum dianut peraturan-peraturan resmi. Ada delapan sifat dan kepribadian yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin atau disebut Asta Brata, agar Kepemimpinan (Leadership) nya berhasil. Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah: 1. Indra-Brata, yang memberi kesenangan dalam jasmani. 2. Yama-Brata, yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hukum. 3. Surya-Brata, yang menggerakkan bawahan dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasion. 4. Caci-Brata, yang memberi kesenangan rohani. 5. Bayu-Brata, yang menunjukkan keteguhan pendidikan dan rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran pengikut-pengikutnya. 6. Dhana-Brata, menunjukkan pada suatu sikap yang patut dihormati. 7. Pac- Brata, yang menunjukkan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian dan keterampilan. 8. Agni-Brata, yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah.
MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) Ada pepatah “Ing Ngarso sun Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang jika dijabarkan akan bermakna :
1. Kepemimpinan (Leadership) di Muka Seorang pemimpin di muka, harus memiliki idealisme kuat, serta dia harus dapat menjelaskan cita-citanya kepada masyarakat dengan cara-cara sejelas mungkin. Karena dia harus mampu menentukan suatu tujuan bagi masyarakat yang dipimpinnya, serta merintis ke arah tujuan tersebut dengan menghilangkan segala hambatan, antara lain dengan menghapuskan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah usang. Bahayanya bagi pemimpin di muka adalah, kemungkinan berjalannya terlalu cepat, sehingga masyarakat yang dipimpinnya tertinggal jauh.
2. Kepemimpinan (Leadership) di Tengah Seorang pemimpin di tengah-tengah, mengikuti kehendak yang dibentuk masyarakat. Ia selalu dapat mengamati jalannya masyarakat, serta dapat merasakan suka dukanya. Dari dia diharapkan dapat merumuskan perasaan-perasaan serta keinginan-keinginan masyarakat dan juga menimbulkan keinginan masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan.
3. Kepemimpinan (Leadership) di Belakang Pemimpin di belakang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Dia berkewajiban untuk menjaga agar perkembangan masyarakat tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang pada suatu masa dihargai oleh masyarakat. Sendi-sendi Kepemimpinan (Leadership)nya adalah keutuhan dan harmoni. Pemimpin yang demikian berkecenderungan untuk menjadi formalistis, bahkan tradisionalis. Kepemimpinan (Leadership) di belakang masih jelas tergambar dari istilah-istilah seperti ”Pamong Praja”, “Pamong Desa” dan seterusnya, yang menggambarkan bahwa fungsi pemimpin adalah untuk membimbing masyarakat.
KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) KOLEGIAL Adalah Kepemimpinan (Leadership) yang dilakukan secara bersama-sama yaitu seorang pemimpin tidak akan bertindak sendiri sebelum bermusyawarah dalam suatu rapat. Dengan demikian, maka keputusan para pemimpin tersebut sekaligus merupakan pula rasa keadilan bagi para anggota.
Materi disampaikan dalam berbagai kajian dan seminar tentang kepemimpinan dan keorganisasian dalam lingkup Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya.