-->

IKLAN SPESIAL

TELAH DIBUKA

KEDAI PENGETIKAN
"BUMI PENA"

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)
KOMISARIAT FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Menerima :

Pengetikan (Rp. 1.400,-/lbr)
Print BW (Rp. 350/lbr)
Print Colour (Rp. 1.500/lbr)
Desain Grafis (Harga Nego)

Office : Jl. Gembili II-1 Wonokromo, Surabaya
(Depan Komplek Muhammadiyah Gadung)
Cabang : Jl. Sutorejo Surabaya
(Depan Kampus UMSurabaya)

Contact Person : 0857 344 222 13
gravatar

Rencana Pendirian Pesantren Mahasiswa

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya dengan perantara Al Qolam, Sholawat teriring Salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta Keluarga, Sahabat dan Pengikutnya yang tetap setia memperjuangkan tegaknya Dinul Islam.

Sudah menjadi pandangan bersama (Common Sense) bahwa peran pemuda sebagai agen penerus kejayaan ummat sudah tidak terelakkan lagi. Pada masanya nanti, pemuda saat inilah yang akan menjadi tonggak kehidupan. Sebagai sosok agent of change sekaligus sebagai agent of social control, pemuda khususnya mahasiswa dituntut untuk menjadi manusia insan kamil agar benar-benar mampu menjadi sosok teladan pada masa yang akan datang.

Sementara itu, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai tonggak religi universitas terus berkembang seiring perubahan zaman. Perbedaan latar belakang mahasiswa serta semakin berbaurnya mahasiswa FAI dengan mahasiswa umum menuntut adanya pembinaan yang lebih intens. Hal ini merupakan salah satu perwujudan dari misi FAI UMSurabaya untuk mencetak kader dakwah penerus perjuangan muhammadiyah di Jawa Timur khususnya dan di Idonesia pada umumnya.

Dalam sebuah ungkapannya, Mohammad Natsir (1987) pernah menyatakan sebuah gagasan tentang penyatuan kampus, masjid, dan pesantren. Masjid dan pesantren mewakili institusi da’wah, baik kelembagaan maupun aktivitasnya, sedangkan kampus merupakan perwakilan kaum intelektual. Penyatuan tiga komponen ini sesungguhnya merupakan inti kompilasi dari tiga potensi kecerdasan manusia yang dikaruniakan oleh Allah SWT, yakni kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Oleh karena itu, keberadaan sebuah pesantren di kampus menjadi sangat penting. Ia bisa menjadi penyeimbang bagi ilmu akademis yang didapat di bangku kelas, yaitu sebagai penyedia ilmu agama. Sehingga mahasiswa mampu menyeimbangkan ilmu dan imannya dalam beramal, baik di dunia kampus sekarang, maupun di dunia masyarakat kelak.

Berangkat dari wacana tersebut, Ikatan mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Agama Islam Univesitas Muhammadiyah Surabaya sebagai putra mahkota FAI UMSurabaya merasa berkewajiban untuk turut serta membantu melaksanakan serangkaian program pendidikan dan pembinaan keagamaan untuk mahasiswa FAI UMSurabaya. Hal ini dilaksanakan selain untuk membantu mewujudkan kader dakwah sebagaimana misi FAI UMSurabaya, juga demi terus berlangsungnya kejayaan IMM FAI UMSurabaya.

Untuk melaksanakan program tersebut, maka IMM Kom. FAI UMSurabaya bermaksud mewujudkan Pesantren Mahasiswa sebagai sarana perkaderan dan pembinaan untuk mewujudkan kader dakwah yang siap mejadi pelopor ummat, sekaligus untuk memproteksi mahasiswa FAI UMSurabaya dari ideologi yang merusak perkaderan melalui pengajian yang akan diberikan dalam pesantren tersebut.

Selain itu, diharapkan agar mahasiswa FAI UMSurabaya dapat memanfaatkan pesantren tersebut sebagai sarana untuk berwira usaha untuk membentuk kader yang bukan hanya sebagai kader berilmu tinggi, namun juga kader yang kreatif dan mandiri.

Baca selengkapnya!
gravatar

BERHIASLAH wahai wanitaku

Berabagai merek parfum, kosmetik dan jenis pakaian saat ini memiliki pangsa pasar yang cukup bagus yakni dengan menjadikan wanita sebagai objeknya. Di jalan-jalan, mal-mal, hingga di lingkungan formil mereka menebar sejuta pesona yang melekat dalam diri mereka. Lantas benarkah apa yang mereka tebarkan itu adalah pesona sedangkan sejatinya itu hanyalah fitnah belaka.



Berhias atau tabarruj sudah merupakan hal yang lazim terjadi di dunia masa kini. Adapun makna dari tabarruj itu sendiri cukup banyak ulama’ yang mengartikannya dalam beberapa pengertian antara lain sebagai berikut :
1. Az Zajjaj Abu Ishaq Ibrahim ibn Sirri Menerjemahkannya sebagai perbuatan yang menampakkan perhiasan dan segala yang mengundang syahwat laki-laki.
2. Qatadah mengartikannya sebagai wanita yang keluar rumah dengan berjalan lenggak-lenggok dan genit.
3. Ibnul Atsir memahaminya sebagai perbuatan yang menampakkan perhiasan kepada laki-laki yang ajnab (Bukan Mahram).

Lantas bagaimana dengan keadaan lingkungan kita yang seakan dipenuhi wanita yang berjalan dengan penuh dihiasi perhiasannya. Mulai dari perhiasan berupa benda hingga perhiasan berupa kecantikan yang amat sangat mempesona bagi kaum lelaki tersebut? Jika kita mau menyisihkan sejenak waktu kita guna membuka Alquran, maka akan kita dapati di sana beberapa ayat yang melarang secara tegas perbuatan tersebut. Antara lain QS Al-Ahzab;33, QS An-Nur;60 ditambah beberapa Hadits Nabi. Apapun yang terjadi selama ini, mulai seorang muslimah yang “telanjang” dengan pakaiannya, hingga mereka yang menggunakan kerudung “Gaul”, dengan pernak-pernik, pendek, transparan, wangi, lalu berjalan-jalan di muka umum bersama cincin, gelang dan berbagai perhiasannya dengan bangga seolah berkata “pandanglah aku, lihatlah aku..”
Satu hal yang selayaknya menjadiperhatian kita, adalah bahwasanya dosa besar akan diancam dengan tegas dalam Quran berupa siksaan dan azab. Sementara wanita yang keluar rumah dengan pakaian telanjangnya, dengan tabarrujnya, dan mereka menebarkan fitnah maka sudah dijelaskan bahwa mereka tidak akan mencium bau surga. Baunya saja tidadk dapat menciumnya, apalagi merasakan nikmatnya kehidupan surga?
Apakah ancaman ditas bermakna tabarruj adalah hal yang remeh? Berhati-hatilah.
Lantas dengan apa selayaknya mereka berhias??
Dengan dasar Quran dan Hadits sudah jelas bahwa hanya ada 2 hal yang dapat menjadi perhiasan kita. Yani keimanan dan Ketaqwaan pada Allah SWT. Maka Berhiaslah hai wanitaku dengan perhiasan yang telah ditentukan oleh Allah dengan jalan menambah keimanan dan Ketaqwaanmu. Satu lagi perhiasan yang tidak kalah mahalnya, Yakni rasa malu. Perhiasan yang terakhir inilah yang pada akhirnya dapat melepaskankita dari kejelekan baik di dunia maupun di akhirat. Tetap berhias di bawah Ridla Allah, niscaya kecantikanmu menjadi kecantikan yang sewajarnya.



Baca selengkapnya!
gravatar

Belajar Menjadi Orang "GOBLOK"

Tertarik membaca sebuah buku berjudul “Murid Goblok ketemu Guru Goblok” karya Imam Supriyono. Ia mengisahkan perjumpaannya dengan seorang guru bernama Abdul Rachim dalam buku ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang mampu diambil dari kisah perjumpaan kedua sosok goblok tersebut. Lantas sejatinya seberapa goblok-kah mereka?
Buku tersebut adalah karangan Imam Supriyono yang ke-7. Jelas bukan sembarang orang “goblok” yang mampu menulis buku hingga sekian kali, sedang orang yang pintar saja belum tentu mampu mengisi secarik kertas dengan kalimat yang bermutu dan bermanfaat.

Klasifikasi Orang Goblok
Dalam buku tersebut, setidaknya terdapat 3 tipe orang goblok. Pembagian tersebut berdasarkan kesadaran orang tersebut atas kegoblokannya. Tiga tipe tersebut adalah :
Tipe Pertama, orang goblok yang sadar atas ke-goblok-annya. Tipe goblok seperti ini sepertinya disarankan oleh pengarang agar seseorang mau menyadari kekurangannya dan mau berbenah diri agar bisa keluar dari predikat goblok.
Tipe Kedua, orang goblok yang tidak sadar atas ke-goblok-annya. Dengan ketidak sadarannya, maka orang tersebut tidak akan mau berbenah diri dan selamanya akan tetap berada dalam jurang kegoblokan. Inilah yang kemudian diistilahkan sebagai goblok statis atau goblok abadi.
Tipe Ketiga, orang goblok yang tidak sadar atas ke-goblok-annya dan bahkan cenderung suka menganggap orang lain goblok. Ia akan marah jika dibilang goblok ataupun dinasehati atas kegoblokannya. Parahnya ia justru menggoblokkan orang yang menganggapnya goblok. Sedemikian rumitnya goblok tipe ini hingga banyak diistilahkan sebagai goblok sempurna, goblok total ataupun goblok absolut.

ANDA MASUK GOLONGAN MANA??

Baca selengkapnya!
gravatar

PERAN ULAMA’ DALAM FATWA HARAM ROKOK BERDASAR KAIDAH FIKIH DAN KOMPETENSI INTELEKTUAL “GRAMSCI”

Oleh Gandhung Fajar Panjalu
(Pemikir dan Perokok)
Fatwa haram rokok yang akhir-akhir ini mencuat kembali di permukaan sejatinya bukan hanya masalah dalil.Terbukti banyak kaidah fikih yang sama digunakan oleh dua pihak, yakni pro fatwa haram dan pihak yang kurang setuju dengan fatwa tersebut. Misalnya kaidah daf'ul mafasid muqaddam `ala jalbil masolih (menjauhkan kerusakan lebih didahulukan daripada merengkuh kemaslahatan), serta kaidah laa dlororo wa laa dlirooron (Tidak ada pihak yang membawa mudlarat dan tidak ada pihak yang mendapat mudlarat). Jika dalilnya sama lantas mengapa penafsirannya berbeda? Disini saya akan mencoba membuka perbedaan tersebut melalui konsep kompetensi intelektual yang dikemukakan oleh Gramsci.

Antonio Gramsci, pada saat dipenjara oleh Mussollini pada dekade 1930 menulis sebuah catatan yang kemudian muncul dalam bukunya berjudul Selections from the Prison Notebooks of Antonio Gramsci (1971). Dalam buku tersebut ia membagi intelektual menjadi dua, yakni tradisional dan organik.

Intelektual Tradisional adalah kategori yang bisa dikenakan kepada figur intelektual menara gading yang melakukan kongsi dan aliansi dengan kaum penguasa. Karena itu, intelektual kelompok ini cenderung konservatif terhadap perubahan sosial. Dalam bahasa kita, kelompok ini termasuk di dalamnya para guru, kyai, dosen serta pihak-pihak lain yang terkungkung oleh teori yang ada dan tidak mampu serta tidak mau melepaskan diri darinya.

Adapun intelektual organik merupakan kategori bagi figur atau kelompok intelektual yang mendedikasikan dirinya untuk perjuangan menuju kebaikan kelompok sosial masyarakatnya. Karena itu, mereka cenderung revolusioner dan tidak konservatif. Dalam bahasa kita, kelompok ini adalah para aktifis organisasi sosial, mahasiswa aktif, pekerja kasar dan orang-orang lapangan.

Bagaimanapun juga dalam tubuh MUI maupun Majelis Tarjih yang telah memaparkan fatwa haram rokok terdapat dua golongan ini. Ada kalangan tradisional yang menggunakan kaidah tersebut secara pasti, jelas dan tegas. Adapula kaum organik yang membawa kaidah tersebut berputar-putar, njlimet dan sedikit ruwet sebelum akhirnya muncul keputusan.

Bagi kaum tradisional, melihat makna kaidah dan hubungannya dengan rokok tentu akan memvonis haram, hal itu ditinjau dari kandungan rokok, kesehatan, dan bahaya rokok serta menyimpulkan bahwa merokok lebih besar bahayanya daripada manfaatnya. Namun bagi kaum organik mencoba untuk menghubungkannya dengan dunia luar, para buruh pabrik rokok, devisa negara dan lain sebagainya yang akhirnya berfikiran bahwa memang rokok madlaratnya cukup besar, namun fatwa haram merokok akan membawa madlarat lebih besar lagi, akhirnya lahirlah kesimpulan bahwa merokok hukumnya makruh.

Dalam kasus fatwa rokok, dan mungkin yang lainnya, tampak bahwa ulama memiliki fungsi sebagai intelektual organik sekaligus sebagai intelektual tradisional. Mereka bukah hanya mampu mengaji namun juga mengkaji. Bukan hanya bisa ndalil namun juga mampu memikirkan keadaan ummat dan memikirkan kebaikan pada masa mendatang.

Lantas dimana kita berpijak dalam kasus rokok ini? Haramkah?? Makruhkah?? Atau hanya haram bagi golongan tertentu saja sedang yang lain makruh?? Jawabannya adalah “Kembali kepada hati nurani kita”. Mari berfikir dan menelaah dengan hati, bukan hanya dengan otak.



Baca selengkapnya!
gravatar

VIRUS KAGETAN DAN MUTUNGAN


Jika kader Muhammadiyah itu “Kagetan”, maka Muhammadiyah akan redup sinarnya, lalu mati.
Jika kader Muhammadiyah itu “Mutungan”, maka Muhammadiyah akan redup pula sinarnya, lalu mati juga.


Dua baris kalimat di atas adalah kalimat sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Pemaknaan tersebut bukan hanya berkisar benar atau tidaknya kalimat di atas, namun juga berkaitan dengan posisi, apakah kita berada dalam salah satu golongan tersebut, ataukah kita masih berada di golongan yang lurus dan benar, ataukah justru kita membuat golongan sendiri yang baru dan berbeda, namun berujung sama, mematikan.


Kader kagetan merupakan istilah bagi seorang kader yang tidak dapat menempatkan diri pada posisi dimana ia berada. Baru menjadi ketua PCM saja sudah berfikiran bahwa pergerakan muhammadiyah berada di bawah kekuasaannya. Baru menjadi ketua IMM komisariat saja sudah merasa dirinya sebagai orang top di IMM. Di sisi lain, kader kagetan itu diartikan sebagai kader yang “lupa akan kulitnya”. Ketika ia menduduki jajaran penting, ia akan menjadi kaget, bingung, mencoba untuk eksis diselubungi kata totalitas, lantas melupakan ikatan dan persyarikatan. Biasanya, hal ini identik hubungannya dengan amal usaha. Ketika seorang kader sudah berada pada posisi nyaman di amal usaha, maka ghirohnya untuk berbhakti pada persyarikatan cenderung melemah. Apalagi amal usaha yang “profitable”, karena dirasa amal usaha tersebut lebih menguntungkan secara finansial daripada eksis di persyarikatan yang sifatnya sosial yang biasanya ia plesetkan menjadi “Ngo-sos & sial”.

Jika kader Muhammadiyah tersusupi virus ini, maka ia hanya akan menjadi benalu di Muhammadiyah. Menghisap makanan dan bergantung hidup di Muhammadiyah, namun sejatinya ia justru akan melemahkan Muhammadiyah. Berapa banyak kader amal usaha kita yang lupa akan garis perjuangan Muhammadiyah (Apalagi memang sebagian pengurus amal usaha bukan orang Muhammadiyah). Hal inilah yang akan melemahkan Muhammadiyah di masa mendatang. Banyak kader, namun hanya kader numpang yang pada akhirnya malah mematahkan pergerakan Muhammadiyah itu sendiri

Adapun kader mutungan adalah sosok kader yang merasa dirinya berjasa, namun ia merasa jasa tersebut kurang dihargai oleh orang lain maupun oleh persyarikatan. Karena merasa jasanya kurang dihargai, lantas ia menarik diri dan nyepi dari pergerakan atau bahkan mencari pergerakan lain yang ia anggap bisa lebih menghargainya. Biasanya, hal ini identik dengan majelis dan ortom. Bagaimana seorang ketua majelis dikdasmen yang sudah puluhan tahun membawa dan membina amal usaha pendidikan dengan sukses tapi koq tidak segera diangkat menjadi kepala sekolah misalnya. Atau tentang seorang mahasiswa yang memiliki kompetensi keilmuan dan konsep keilmuan yang matang, bahkan ia merasa telah berhasil mengajak banyak kader untuk bergabung di IMM, namun ia merasa setiap idenya tidak pernah disepakati teman-temannya, bahkan dipatahkan oleh kawannya sendiri.

Virus ini merupakan gabungan dari dua hal, yakni virus ‘ujub, dimana seseorang merasa wah dengan apa yang telah ia lakukan, lantas dibumbui virus suudzdzon, dimana ia menganggap kritikan orang lain sebagai unsur kebencian atas dirinya. Kedua virus ini mengakibatkan rasa jengah dalam pergerakan karena merasa tidak dianggap, lalu ia memilih untuk memutuskan hubungan dari pergerakan.
Sesungguhnya setiap penyakit ada obatnya, setiap virus ada antivirusnya. Lantas apa yang dapat menjaga dan menyembuhkan kita dari kejangkitan dua virus diatas?. Jawabnya adalah dengan kembali kepada khiththah pergerakan, serta sering menghadiri forum internal yang membahas tentang pergerakan agar ideologi kita senantiasa bersih dan lurus.



Baca selengkapnya!

About Me

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khoirot

Papan Ngobrol


ShoutMix chat widget