-->

IKLAN SPESIAL

TELAH DIBUKA

KEDAI PENGETIKAN
"BUMI PENA"

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)
KOMISARIAT FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Menerima :

Pengetikan (Rp. 1.400,-/lbr)
Print BW (Rp. 350/lbr)
Print Colour (Rp. 1.500/lbr)
Desain Grafis (Harga Nego)

Office : Jl. Gembili II-1 Wonokromo, Surabaya
(Depan Komplek Muhammadiyah Gadung)
Cabang : Jl. Sutorejo Surabaya
(Depan Kampus UMSurabaya)

Contact Person : 0857 344 222 13

Archives

gravatar

Welcome to "Mahasiswa"

I. Prolog
Mengutip kata pepatah lama, tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, warna hidup kitapun berganti. Pernah kita alami warna merah dan putih mendominasi pakaian kita, yang kemudian digantikan dengan biru putih lantas dengan abu-abu-putih. Pla pikir yang kita rasapun sedikit demi sedikit terjadi perubahan yang kian menanjak. Hingga akhirnya tibalah kita pada saat ini dimana telah kita tinggalkan kenangan itu dan kita tanggalkan seragam itu. Kini satu predikat lagi yang menempel dalam diri kita, yakni “Mahasiswa”.
Namun sudah siapkah kita guna menyandang predikat yang tidak gampang tersebut?. Hal itu terletak pada sejauh mana kita dapat mengetahui serta membedaan antara jenjang yang telah kita lalui dan jenjang yang akan serta sedang kita jalani, atau lebih tepatnya sejauh mana kita mengetahui perbedaan antara siswa dengan mahasiswa. Banyak diantara mahasiswa baru atau bahkan mahasiswa lama yang kurang memahami hal ini sehingga kurang dapat memposisikan dirinya pada tempat yang selayaknya. Ia terkadang tidak tampak sebagai mahasiswa bahkan cenderung seperti preman saat dia melakukan anarki dan kejadian yang menyulut kekerasan yang lain.

II. Memang Beda
Jika kita telusuri perbedaan yang terdapat diantara keduanya, maka kita akan mendapati setidaknya 4 perbedaan berdasarkan tinjauan yang kita gunakan yakni
1. Tinjauan Pustaka
Secara pustaka, keduanya jelas berbeda. Siswa dalam banyak perspektif dimaknai sebagai pelajar di tingkatan Sekolah Dasar hingga Menengah, terlepas dari pendidikan non formil yang bisa saja menyebut pelajarnya dengan sebutan apapun. Ketika telah melewati jenjang tersebut, maka predikat yang ia sandang bukan lagi siswa melainkan Mahasiswa.
2. Tinjauan Historis
Dari segi sejarah, ada hal yang cukup unik tentang perbedaan diantara keduanya. Contohnya yakni pada era penjajahan belanda dimana pendidikan yang paling banyak dilakukan oleh penduduk adalah SR (Sekolah Rakyat). Sedikit sekali diantara mereka yang bisa sekolah di jenjang atasnya kecuali orang tersebut memiliki kelebihan ekonomi. Apalagi untuk mencapai sekolah kesarjanaan. Baru pada pasca sumpah pemuda, kita merasakan pendidikan yang lebih baik.
3. Tinjauan Fisik
Jelas, seiring berbedanya jenjang usia maka perbedaan fisik juga menjadi akibat dari hal tersebut. Siswa cenderung memiliki postur tubuh yang lebih kecil dikarenakan faktor usia. Namun tidak jarang kita menemui orang dengan kecacatan fisik dimana usia yang ia miiki relativ banyak namun memiliki postur yang tidak seberapa atau bahkan kurang dari rata-rata. Sebenarnya tinjauan ini tidak perlu saya sampaikan, namun agar tampak objektif maka saya coba untuk mengugkapkannya di sini.
4. Tinjauan Psikologis
Selayaknya, mahasiswa dapat berfikir secara lebih matang daripada siswa. Karena bertambahnya usia, pengetahuan dan pengalaman membuat pola pikirpun bertambah maju. Dalam kondisi tertentu dimana akal sehat sudah tidak lagi menjadi senjata utama, kita sering menemui sosok mahasiswa yang masih berfikiran kekanak-kanakan. Proses pendewasaan yang kurang tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor seperti lingkungan, keluarga, atau bahkan dikarenakan hal yang bersifat pribadi sehingga ia merasa nyaman dengan gaya kekanak-kaqnakannya. Sikap yang seperti ini memang kadang diperlukan, namun ketika menghadapi masalah yang kompleks hal tersebut sama sekali tidak diperlukan bahkan cenderung negatif apabila kita lakukan dalam kondisi itu.

III. Penutup
Dari paparan singkat tersebut diatas akan dapat kita tarik kesimpulan bahwa jelas terdapat perbedaan diantara keduanya. Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dan kita dapat mengerti pada posisi mana kita berada sehingga perilaku kita benar benar sesuai hal yang harus terjadi. Maka semoga kita dapat menumbuh kembangkan organisasi yang kita ikuti, dan semoga setiap gerak dan perjuangan kita diridlai Allah SWT, Amin





Baca selengkapnya!
gravatar

Peranan IMM bagi Mahasiswa

Bagi banyak pemikir, kehidupan sesungguhnya adalah belajar. Dari pelajaran itulah kita akan menemukan sebuah perubahan yang berarti pada diri yang disebut revolusi.


Saya teringat pada acara Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan IMM Koorkom UMSurabaya tanggal 20 sampai 22 Maret 2008 beberapa waktu lalu ketika menulis esai ini. Pada saat sesi “Meneropong Masa Depan”, teman-teman kader baru IMM di kelompok saya (yang berjumlah 10 orang) memberikan segenap unek-uneknya tentang rencana masa depan mereka pasca DAD ini. Ada banyak hal yang mereka pikirkan dan mereka ungkapkan selepas acara DAD maupun jauh beberapa tahun ke depan.
Terasa indah mendengar, membaca dan merenungi apa yang mereka rencanakan; mengenai cita-cita, harapan dan mungkin mimpi-mimpi yang mesti mereka wujudkan. Dalam ranah keagamaan, kebanyakan dari mereka menginginkan menjadi aktivis Muhammadiyah yang akan membela perjuangan Islam khususnya Muhammadiyah; menegakkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. IMM bagi mereka merupakan sebuah sarana seumpama jembatan yang akan mengantarkan mereka kepada cita-cita Muhammadiyah. Melalui IMM mereka tahu tujuan IMM yang selaras dengan tujuan Muhammadiyah.
Dalam kehidupan pribadi, IMM dapat menjadi kawah candradimuka yang akan membekali mereka dalam kehidupan selanjutnya; menjadi pribadi yang mumpuni dalam keluarga dan menjadi makhluk sosial yang berkualitas. Selebihnya IMM adalah ladang pembelajaran untuk mematangkan bagaimana cara untuk berda’wah amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat.
Dari segelintir mimpi-mimpi kader tersebut saya dapat memberikan gambaran seperti apa peranan dan manfaat IMM bagi mahasiswa khususnya mahasiswa yang tergabung dalam IMM sendiri. IMM merupakan wadah untuk belajar tentang organisasi, berfikir intelek dan berakhlak mulia, dan mendidik mahasiswa untuk siap terjun dalam masyarakat kelak.

Maslahat atau Mudharat?
Fenomena yang banyak terjadi dari dulu hingga sekarang, mahasiswa yang terlalu aktif di organisasi tertentu sampai jarang kuliah, maka biasanya IP bisa diramal sebelum pengeluaran KHS – sama seperti murid SD yang tak pernah mau belajar meski ia bukan murid yang cerdas. Padahal, mungkin sekali IP dan ijazah tidak akan memberikan apa-apa tanpa kesadaran emosional (Emotional Quotient) dan kesadaran spiritual (Spiritual Quotient) yang tinggi. Kehadiran di bangku kampus terbukti tidak memberikan apa-apa tanpa rasa suka untuk kuliah, dan hal ini tidak pernah benar-benar dihargai oleh kebanyakan orang yang mengakui dirinya sebagai ahli pendidikan.
Dengan mengikuti organisasi tertentu secara tidak langsung telah memberikan poin yang lebih bagi pembelajaran, sayangnya poin ini jarang sekali kita perhatikan. Kita seringkali menganggap keduanya berbeda. Di dalam buku-buku accelerated learning disebutkan bahwa seseorang akan mampu mengingat dengan lebih baik apabila ia merasakan langsung manfaat dari sebuah pelajaran, bagaimana kemudian sesuatu yang ia pelajari berlaku pada konteks dunia nyata. Seseorang juga akan belajar lebih banyak hal apabila dia berinteraksi dengan orang lain dan secara berkesinambungan mempertahankan hubungan tersebut. Dia akan mampu menghubung-hubungkan berbagai hal yang dipelajarinya dengan banyak bidang. Begitulah cara Einstein berpikir. Seorang mahasiswa akan lebih banyak belajar jika ia mampu berinteraksi dengan baik dengan dunia di luar kampus, apakah itu realitas sosial maupun alam semesta.
Melalui organisasi kampus seperti juga IMM, mahasiswa dapat belajar bersosialisasi dengan dunia di luar kampus, dunia sesungguhnya. Mengesampingkan ego, idealitas, dan sikap intelek yang berlebihan. Interaksi sosial yang baik akan sangat menolong mahasiswa selepas ia menanggalkan almamater kampusnya ke tengah masyarakat. Inilah sesungguhnya belajar yang manusiawi, belajar dalam universitas kehidupan.
Belajar yang manusiawi sesungguhnya merupakan hak asasi setiap manusia. Dengan belajar diharapkan seseorang akan mampu menjadi manusia yang memenuhi tiga kodratnya, sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Ketiga dimensi ini yang kemudian tergambar di dalam tiga bentuk kecerdasan yaitu IQ, EQ, dan SQ. Dalam konteks individu, seseorang tidak akan pernah berbuat banyak terhadap hal-hal yang bermanfaat di dalam hidupnya jika ia tidak pernah mengimplementasikannya di dalam kehidupan sosial. Kehidupan organisasi yang telah dilalui ketika menjadi mahasiswa akan lebih berarti untuk mengembangkan potensi dirinya di masyarakat.

IMM bagi Mahasiswa Umumnya
Pada ranah yang lebih luas – dalam realitas gerakan mahasiswa saat ini – boleh dikatakan IMM kurang dikenal di kalangan masyarakat luas. Hal ini karena peranan IMM di masyarakat masih sangat kurang. Bahkan di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah sendiri, tidak sedikit mahasiswa yang mempertanyakan apa peranan IMM untuk kampus. Artinya, peranan IMM baik di internal kampus maupun di luar kampus saat ini masih dipertanyakan. Gerakan IMM masih lebih terfokus pada lingkaran terkecil; internal organisasi.
Sebenarnya, melalui tri kompetensi dasar-nya IMM harus dapat memberikan peranan yang signifikan bagi mahasiswa, persyarikatan (dalam hal ini Muhammadiyah), dan masyarakat. Sebagai organisasi underbo Muhammadiyah, maka gerakan kader ini harus mampu memberikan kontribusi bagi mahasiswa untuk dapat ber-amar ma’ruf nahi munkar berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan tujuan IMM yaitu mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.


Diah K., Aktivis IMM Kom. FAI UMSurabaya dengan beberapa tambahan dari Bayu Satria, immfaiuad, WordPres.com





Baca selengkapnya!
gravatar

Kepemimpinan


Leadership


PENDAHULUAN
Kepemimpinan (Leadership) merupakan hasil organisasi sosial yang telah terbentuk atau sebagai hasil dinamika interaksi sosial. Sejak mula terbentuknya suatu kelompok sosial, seseorang atau beberapa orang di antara warga-warganya melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rekannya, sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebih menonjol dari lain-lainnya. Itulah asal mula timbulnya Kepemimpinan (Leadership)1, yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur sosial yang kurang stabil. Munculnya seorang pemimpin sangat diperlukan dalam keadaan-keadaan di mana tujuan kelompok sosial yang bersangkutan terhalang atau apabila kelompok tadi mengalami ancaman dari luar. Dalam keadaan demikian agak sulit bagi warga kelompok menentukan langkah-langkah yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Muncullah seseorang yang mempunyai kemampuan menonjol yang diharapkan akan menanggulangi segala kesulitan-kesulitan yang ada.
Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok. Apabila saat tersebut muncul seorang pemimpin, maka kemungkinan besar kelompok-kelompok tersebut akan mengalami suatu disintegrasi. Tidak munculnya pemimpin tadi adalah mungkin karena seorang individu yang diharapkan akan menjadi pemimpin ternyata tidak berhasil membuka jalan bagi kelompok untuk mencapai tujuannya dan dengan begitu kebutuhan warga tidak terpenuhi.

DEFINISI KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP)
Kepemimpinan (Leadership) (Leadership) adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Ada 2 macam Kepemimpinan (Leadership) yaitu Kepemimpinan (Leadership) sebagai kedudukan dan Kepemimpinan (Leadership) sebagai suatu proses sosial. Sebagai kedudukan, Kepemimpinan (Leadership) merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Sebagai suatu proses sosial, Kepemimpinan (Leadership) meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau sesuatu badan yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat.
Kepemimpinan (Leadership) ada yang bersifat resmi (formal Leadership) yaitu Kepemimpinan (Leadership) yang tersimpul di dalam suatu jabatan. Ada pula Kepemimpinan (Leadership) karena pengakuan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalankan Kepemimpinan (Leadership) (informal Leadership) bersifat tidak resmi. Terdapat suatu perbedaan antara Kepemimpinan (Leadership) resmi dan Kepemimpinan (Leadership) tidak resmi. Adalah Kepemimpinan (Leadership) resmi di dalam pelaksanaannya selalu berada di atas landasan-landasan atau peraturan-peraturan resmi, sehingga dengan demikian cakupannya terbatas. Kepemimpinan (Leadership) tidak resmi, mempunyai ruang lingkup tanpa batas-batas resmi, karena Kepemimpinan (Leadership) demikian didasarkan atas pengakuan dan kepercayaan masyarakat. Ukuran benar tidaknya Kepemimpinan (Leadership) tidak resmi terletak pada tujuan dan hasil pelaksanaan Kepemimpinan (Leadership) tersebut, menguntungkan atau merugikan masyarakat.
Walaupun seorang pemimpin (yakni yang melaksanakan Kepemimpinan (Leadership)) yang resmi tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturan resmi yang menjadi landasannya, akan tetapi dapat melakukan kebijaksanaan yang dapat memancarkan kemampuan mereka sebagai pemimpin.
Kepemimpinan (Leadership) yang tidak resmi dapat digunakan pula di dalam suatu jabatan resmi dan tentu saja lebih leluasa di dalam masyarakat yang belum dianut peraturan-peraturan resmi.
Ada delapan sifat dan kepribadian yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin atau disebut Asta Brata, agar Kepemimpinan (Leadership) nya berhasil. Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah:
1. Indra-Brata, yang memberi kesenangan dalam jasmani.
2. Yama-Brata, yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hukum.
3. Surya-Brata, yang menggerakkan bawahan dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasion.
4. Caci-Brata, yang memberi kesenangan rohani.
5. Bayu-Brata, yang menunjukkan keteguhan pendidikan dan rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran pengikut-pengikutnya.
6. Dhana-Brata, menunjukkan pada suatu sikap yang patut dihormati.
7. Pac- Brata, yang menunjukkan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian dan keterampilan.
8. Agni-Brata, yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah.

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP)
Ada pepatah “Ing Ngarso sun Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang jika dijabarkan akan bermakna :

1. Kepemimpinan (Leadership) di Muka
Seorang pemimpin di muka, harus memiliki idealisme kuat, serta dia harus dapat menjelaskan cita-citanya kepada masyarakat dengan cara-cara sejelas mungkin. Karena dia harus mampu menentukan suatu tujuan bagi masyarakat yang dipimpinnya, serta merintis ke arah tujuan tersebut dengan menghilangkan segala hambatan, antara lain dengan menghapuskan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah usang. Bahayanya bagi pemimpin di muka adalah, kemungkinan berjalannya terlalu cepat, sehingga masyarakat yang dipimpinnya tertinggal jauh.

2. Kepemimpinan (Leadership) di Tengah
Seorang pemimpin di tengah-tengah, mengikuti kehendak yang dibentuk masyarakat. Ia selalu dapat mengamati jalannya masyarakat, serta dapat merasakan suka dukanya. Dari dia diharapkan dapat merumuskan perasaan-perasaan serta keinginan-keinginan masyarakat dan juga menimbulkan keinginan masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan.

3. Kepemimpinan (Leadership) di Belakang
Pemimpin di belakang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Dia berkewajiban untuk menjaga agar perkembangan masyarakat tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang pada suatu masa dihargai oleh masyarakat. Sendi-sendi Kepemimpinan (Leadership)nya adalah keutuhan dan harmoni. Pemimpin yang demikian berkecenderungan untuk menjadi formalistis, bahkan tradisionalis. Kepemimpinan (Leadership) di belakang masih jelas tergambar dari istilah-istilah seperti ”Pamong Praja”, “Pamong Desa” dan seterusnya, yang menggambarkan bahwa fungsi pemimpin adalah untuk membimbing masyarakat.



KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) KOLEGIAL
Adalah Kepemimpinan (Leadership) yang dilakukan secara bersama-sama yaitu seorang pemimpin tidak akan bertindak sendiri sebelum bermusyawarah dalam suatu rapat. Dengan demikian, maka keputusan para pemimpin tersebut sekaligus merupakan pula rasa keadilan bagi para anggota.

Materi disampaikan dalam berbagai kajian dan seminar tentang kepemimpinan dan keorganisasian dalam lingkup Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya.




Baca selengkapnya!

About Me

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khoirot

Papan Ngobrol


ShoutMix chat widget