-->

IKLAN SPESIAL

TELAH DIBUKA

KEDAI PENGETIKAN
"BUMI PENA"

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)
KOMISARIAT FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Menerima :

Pengetikan (Rp. 1.400,-/lbr)
Print BW (Rp. 350/lbr)
Print Colour (Rp. 1.500/lbr)
Desain Grafis (Harga Nego)

Office : Jl. Gembili II-1 Wonokromo, Surabaya
(Depan Komplek Muhammadiyah Gadung)
Cabang : Jl. Sutorejo Surabaya
(Depan Kampus UMSurabaya)

Contact Person : 0857 344 222 13

Archives

gravatar

Kupas Tuntas VAL-DAYS

Kehadiran hari valentine seakan lebih dinanti dan ditunggu melebihi hari maulid Nabi Muhammad SAW. Unik memang, namun itulah kenyataannya. Hari itu sebentar lagi akan akan tiba, 14 februari mendatang. Sebagai remaja muslim khususnya kader IMM, tentu kita harus mengetahui apa saja terkait hari tersebut, khususnya bagaimana pandangan islam terhadap peringatan valdays yang banyak dimeriahkan remaja saat ini



VALENTINE

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius.
Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, namun jarang kepada teman pria lainnya. Kecuali kedua-duanya adalah kaum homoseksual.

Sejarah Hari Valentine

Perayaan Kesuburan bulan Februari
Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Hari Raya Gereja
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:
• seorang pastur di Roma
• seorang uskup Interamna (modern Terni)
• seorang martir di provinsi Romawi Africa.
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Valentinius
Guru ilmu gnostisisme yang berpengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep ... dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: "Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan" ..." [1].

Era abad pertengahan
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 February adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris Pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (“Percakapan Burung-Burung”) bahwa
For this was sent on Seynt Valentyne's day (“Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)
Whan every foul cometh ther to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)
Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasanagan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:
• Sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati syuhada), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
• Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Hari Valentine pada era modern
Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".)

Hari Valentine di negara-negara non-Barat
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antarkekasih juga mulai muncul.

Di Malaysia perayaan hari Valentine oleh orang Melayu dikecam.

Di Arab Saudi, umat Islam di sana diharamkan untuk memperingatinya karena dianggap sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran [2].
Pandangan Islam terhadap Valentine

Sebagian besar ulama Islam seperti Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimiyah melarang umat Islam untuk ikut merayakan valentine.Menurut beliau, hari besar yang diharamkan untuk terlibat di dalamnya adalah semua jenis hari raya pemeluk agama lain selain Islam. Bahkan beliau meluaskan mengertiannya bahwa tidak hanya yang terkait dengan hari besar agama non Islam, tetapi hari raya apapun yang tidak ada dasarnya dalam Islam pun juga diharamkan untuk menjalankannya [3][4]. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an surat AlKaafirun ayat 6 :Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.
Islam tidak mengenal hari kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam bersifat universal, tidak dibatasi waktu dan tempat dan tidak dibatasi oleh objek dan motif. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad: "Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari" HR. Muslim.[5] Kasih sayang dalam Islam diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditinpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar.[6]

Valentinius


"Lalu datanglah Valentinus, ia yang percaya bahwa samudra dan keheningan sebagai permulaan dari segala sesuatu." -Quevedo

Valentinius, (juga dikenal sebagai Valentinus) (l.k. 100 - l.k. 153), adalah seorang teolog Gnostik Kristen yang paling terkenal dan berpengaruh dan untuk suatu masa tertentu paling berhasil. Ia mendirikan alirannya di Roma. Menurut Tertulianus dalam Adversus Valentinianos iv, pada tahun 143 ia adalah calon uskup Roma, namun ia dikalahkan oleh perbedaan suaru yang sangat kecil. Tertulianus juga megnatakan bahwa Valentinius dinyatakan penyesat pada 175, beberapa tahun setelah kematiannya. "Valentinus telah hilang, namun orang-orang ini adalah kaum Valentinian yang muncul dari Valentinus. Di Antiokhia saja hingga hari ini Axionikus menyimpan kenangan terhadap Valentinus dengan ketaatan penuh terhadap aturan-aturannya." (Tertulianus, AV). Melalui dia, Gnostisisme hampir diterima masuk ke dalam tradisi arus utama agama Kristen.

Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep ... dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: "Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan" ..."

Biografi
Valentinius dilahirkan di Frebonis di Delta Nil dan belajar di Alexandria, sebuah pusat Kristen perdana penting dan kota metropolitan saat itu. Di sana diduga ia pernah mendengar filsuf Kristen Basilides dan kemudian jelas menguasai filsafat Platonisme Tengah Helenistik dan kebudayaan orang-orang Yahudi Helenis seperti alegoris dan filsuf Yahudi Alexandria, Filo Yudeus. Para pengikutnya di Alexandria mengklaim bahwa Valentinus adalah pengikut Teudas dan bahwa Teudas sendiri adalah pengikut St. Paulus dari Tarsus. Valentinius mengklaim bahwa Teudas mengajarkan kepadanya hikmat rahasia yang telah diajarkan Paulus secara pribadi kepada kalangan dekatnya, yang secara terbuka dirujuk oleh Paulus dalam hubungan dengan perjumpaan visionernya dengan Kristus yang bangkit (Roma 16:25; 1 Korintus 2:7; 2 Korintus 12:2-4; Kisah 9:9-10), ketika ia menerima ajaran rahasia daripadanya. ajaran-ajaran esoterik seperti itu tidak lagi begitu dipentingkan di Roma setelah pertengahan abad ke-2.

Valentinius mula-mula mengajar di Alexandria dan kemudian pergi ke Roma sekitar 136, pada masa Hyginus menjadi Paus, dan tinggal di sana hingga masa kepausan Paus Anicetus. Ia menjadi begitu menonjol di antara komunitas Kristen sehingga, menurut Tertulianis Adversus Valentinianos iv, Valentinius menjadi kandidat untuk uskup Roma (sekitar tahun 143) dan bahwa ia kalah dengan perbedaan suara yang sangat kecil:

"Valentinius berharap menjadi uskup karena ia sangat cakap dan pandai berbicara, namun orang lain yang dipilih karena ia pernah menderita sebagai seorang martir. Karena marah oleh hal ini, Valentinius memutuskan hubungan dengan gereja yang sah." — [1] (Motivasi yang dijelaskan ini adalah bagian dari retorika sarkastik Tertulianus.)

Catholic Encyclopedia mengatakan Marcion mungkin juga menjadi salah satu kandidatnya pada saat yang sama. Tertulianus— yang mengembangkan kecenderungan-kencederungan ajaran sesat Montanis— melaporkan bahwa Valentinius dinyatakan sebagai penyesat pada sekitar 175 M. setelah kematiannya. Tertulianus juga menyatakan bahwa Valentinius secara pribadi bersahabat dengan Origenes. Tidak ada bukti bahwa Valentinius pernah digambarkan mengembangkan gereja Paulin yang ortodoks, namun ia memang kontroversial. Menurut sebuah tradisi yang belakangan, ia mengundurkan diri ke Siprus, dan di sana ia terus mengajar dan memperoleh pengikut. Ia meninggal mungkin sekitar 160 atau 161.

Para heresologis (=penulis tentang ajaran sesat) Kristen juga menulis rincian-rincian kehiudpan Valentinus yang oleh komunitas ilmiah di masa kini dianggap tidak dapat diandalkan. Seperti yang disebutkan di atas, Tertulianus mengklaim bahwa Valentinus adalah seorang kandidat uskup Roma dan bahwa ia kalah dalam pemilihan dengan suara tipis, dan setelah itu ia berpaling kepada ajaran sesat karena kecewa. Epifanius menulis bahwa Valentinus meninggalkan iman yang sejati setelah kapalnya karam di Siprus dan menjadi gila. Selain tampaknya tidak mungkin, gambaran-gambaran ini juga kelihatan saling bertentangan.

Valentinus adalah salah satu orang Kristen perdana yang berusaha untuk menghubungkan agama Kristen dengan Platonisme. Ia mengambil konsep-konsep dualis dari dunia Platonis tentang bentuk-bentuk yang ideal (pleroma) dan dunia bawah berupa fenomena (kenoma). Dari para pemikir dan pengkhotbah pertengahan abad ke-2 yang dinyatakan sesat oleh Ireneus dan oleh orang-orang Kristen arus utama yang belakangan, hanya Marcionlah yang menonjol secara pribadi. Perlawanan ortododoks yang sezaman terhadap Valentinus muncul dari Yustinus Martir.

Ketika Valentinus masih hidup ia mempunyai banyak murid, dan sistem pemikirannya adalah yang paling menyebar dari semua bentuk Gnostisisme. Di antara para murid Valentinus yang lebih menonjol, yang betapapun tidak mengikuti pandangan gurunya secara membabi-buta, adalah Bardasanes, yang biasanya dihubungkan dengan Valentinus dalam rujuan-rujukan yang kemudian, serta Herakleon, Ptolemeus dan Marcus. Banyak dari tulisan-tulisan dari para tokoh Gnostik ini, dan sejumlah besar ringkasan dari tulisan-tulisan Valentinus, yang ada hanya dalam bentuk kutipan-kutipan yang diperlihatkan oleh para lawannya yang ortodoks, hingga 1945, ketika kotak tulisan-tulisan di Nag Hammadi mengungkapkan sebuah versi Koptik tentang Injil Kebenaran, yang, menurut Ireneus, adalah sama dengan Injil Valentinus yang disebutkan oleh Tertulianus dalam traktatnya Adversus Valentinianos.

Dalam sebuah teks yang dikenal seagai Pseudo-Anthimus, Valentinus dikutip pernah mengajarkan bahwa Allah terdiri dari tiga hypostasis (hakikat) (realitas-realitas rohani tersembunyi) dan tiga prosopa (pribadi) yang disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus:

"Mengenai ajaran sesat para Ariomaniak, yang telah merusakkan Gereja Allah ... Maka ajarkanlah ketiga hypostasis ini, seperti halnya Valentinus si penghulu penyesat pertama kali ciptakan dalam buku yang diberinya judul 'Tentang Tiga Hakikat'. Karena dialah orang pertama yang menciptakan ketiga hakikat ini dan ketiga pribadi yaitu Bapa, anak dan Roh Kudus, dan ia ternyata telah mencurinya dari Hermes dan Plato." (Sumber: AHB Logan. Marcellus dari Ankara (Pseudo-Anthimus), 'On the Holy Church': Text, Translation and Commentary. Verses 8-9. Journal of Theological Studies, NS, Volume 51, Pt. 1, April 2000, hlm. 95 ).

Karena Valentinus telah menggunakan istilah hypostases (hakikat), namanya muncul dalam pertikaian Arianisme pada abad ke-4. Marcellus dari Ankara, yang merupakan lawan keras Arianisme tetapi juga yang menolak kepercayaan kepada Allah dalam tiga hakikat dan menganggapnya sesat (belakangan ia dikutuk karena pandangannya ini), menyerang lawan-lawannya (Tentang Gereja yang Kudus, 9) dengan menghubungkan mereka dengan:

"Valentinus, sang pemimpin dari sebuah sekte, adalah orang pertama yang menciptakan pemahaman tentang tiga keberadaan (hypostasis) yang berkelanjutan, dalam sebuah buku yang diberinya judul Tentang Tiga Hakikat. Karena, ia menciptakan pemahaman tentang tiga keberadaan yang berkelanjutan dan tiga pribadi - bapa, anak, dan roh kudus." [2]

Ajaran ini belakangan diadaptasi dalam doktrin tentang Tritunggal dari Kekristenan Nicea.

Para pengecam Valentinus
Tak lama setelah kematian Valentinus, Ireneus mulai menyusun bukunya yang tebal Adversus Haeresis dengan pandangan yang sangat bias dan negatif mengenai Valentinus dan ajaran-ajarannya yang mengisi sebagian besar dari buku pertamanya. Seorang peneliti modern, M.T. Riley, mengamati bahwa serangan Tertulianus yang bermusuhan, Adversus Valentinianos menerjemahkan kembali sejumlah alinea dari Ireneus, tanpa menambahkan bahan-bahan orisinal [3]. Belakangan, Epifanius dari Salamis membahas dan menolaknya (Haer., XXXI).

Seperti halnya dengan semua penulis Kristen perdana yang non-traidisonal, Valentinus dikenal umumnya melalui kutipan-kutipan dalam karya-karya para pengkritiknya, meskipun seorang pengikutnya dari Alexandria juga melestarikan sejumlah bagian yang fragmentaris dalam bentuk kutipan-kutipan panjang. Seorang guru Valentinian, Ptolemeus merujuk kepada "tradisi kerasulan yang kami pun telah menerimanya melalui suksesi" dalam suratnya yang bernama Surat kepada Flora. Ptolemeus dikenal hanya melalui surat ini kepada seorang perempuan Gnostik yang kaya yang bernama Flora, sementara surat ini sendiri hanya dikenal karena sepenuhnya dicantumkan dalam tulisan Epifanius Panarion. Surat ini menceritakan pandangan Gnostik mengenai Hukum Musa, dan situasi tentang Demiurgos yang berkaitan dengan hukum ini. Tidak boleh diabaikan bahwa ada kemungkinan bahwa surat ini dikarang oleh Epifanius, dalam bentuk pidato-pidato yang disusun yang seringkali dimasukkan oleh para sejarahwan kuno ke dalam mulut tokoh-tokoh mereka, sebagai cara yang singkat untuk membuat ringkasan.

Injil Kebenaran
Dalam keadaan ini, terbukalah bidang baru dalam studi-studi Valentinian ketika Perpustakaan Nag Hammadi ditemukan di Mesir pada 1945. Di antara kantung yang sangat campuran yang berisi karya-karya yang dicap "gnostik" terdapat serangkaian tulisan yang mungkin sekali berkaitan dengannya, khususnya teks Koptik yang disebut Injil Kebenaran yang secara spesifik pernah disebut sebagai karyanya oleh Ireneus (Adversus Haeresis 3.11.9). Ini adalah suatu pernyataan tentang nama Sang Bapa yang tidak dikenal. Bila seseorang mengetahuinya, maka orang tersebut akan mampu menembus cadar kebodohan yagn telah memisahkan semua makhluk dari Sang Bapa. Dan Yesus Kristus sebagai Juruselamat telah menyingkapkan nama itu melalui berbagai cara yang penuh dengan bahasa yang mengandung unsur abstrak. Clyde Curry Smith menyatakan "Pengertian ini akhirnya terlalu esoterik buat konsumsi umum, dan para pengikut Valentinus kemungkinan sekali hanyalah orang-orang yang berpendidikan."

Sistem teologi
Valentinus mengaku bahwa gagasan-gagasannya berasal dari Teodas atau Teudas, seorang murid dari St. paulus, namun sistemnya jelas merupakan upaya untuk melebur spekulasi-spekulasi Yunani dan Oeriental yang paling fantastis dengan gagasan-gagasan Kristen. Ia khususnya berutang kepada Plato. Dari Plato diambil paralel dengan dunia yang ideal (pleroma) dan dunia bawah berupa fenomena (kenoma). Valentinus secara bebas mengambil dari sejumlah kitab Perjanjian Baru, namun ia menggunakan sebuah sisten penafsiran yang aneh yang dengannya para penulis kitab suci itu dijadikannya bertanggung jawab atas pandangan-pandangan kosmologis dan panteistiknya sendiri. Dalam mengembangkan sistemnya ini, ia sama sekali didominasi oleh dualisme.

Sebagai awal permulaan dari segala sesuatu, ia mengambil bentuk Makhluk yang Pertama (Primal Being) atau Bythos, yang setelah selama berabad-abad membungkam dan melakukan kontemplasi, menyebabkan hadirnya makhluk-makhluk lain melalui proses pemancaran (emanasi). Rangkaian makhluk pertama, aeon, berjumlah tiga puluh, yang mewakili 15 syzygy atau pasangan yang cocok secara seksual. Melalui kelemahan dan dosa Sakla (atau Sofia), salah satu daeri aeon yang paling rendah, dunia bawah dengan ketundukannya terhadap materi pun diciptakan. Manusia, makhluk yang tertinggi di dunia bawah, ikut serta dalam sifat psikis dan hilis (materi), dan karya penebusan terdiri dalam pembebasan dari keberadaan yang lebih tinggi, yang rohani, dari perhambaannya kepada yang lebih rendah. Inilah firman dan misi Kristus dan Roh Kudus. Kristologi Valentinus teramat membingungkan. Ia tampaknya mempertahankan keberadaan tiga makhluk yang menebus, tetapi Kristus, Putra Maria, tidak mempunyai tubuh yang sesungguhnya dan tidak menderita. Sistem Valentinus sangat komprehensif dan dikembangkan untuk mencakup semua tahap pikiran dan tindakan.

Valentinian
"Valentinian" adalah nama aliran filsafat Gnostik yang berasal dari Valentinius. Ini adalah salah satu gerakan Gnostik utama, yang menyebar di seluruh dunia Romawi dan menyebabkan munculnya berbagai tulisan oleh para heresiolog (=penulis tentang ajaran sesat) Katolik. Mereka mengajarkan bahwa materi atau benda itu jahat, khususnya tubuh manusia. Mereka bahkan seringkali digambarkan tak lebih daripada sebuah ajaran sesat di lingkungan agama Kristen, dengan pandangan negatif yang ekstrem tentang kebendaan. Tokoh-tokoh Valentinian yang terkemuka antara lain adalah Herakleon, Ptolemeus, Florinus, dan Axionikus.

Valentine Day Sekadar Geliat Budaya

Zaman begitu cepat berubah seiring dengan geliat kehidupan manusia. Coba saja lihat setiap tahun pada 14 Februari ada sebagian dari kita latah ikut-ikutan merayakan Hari Kasih Sayang alias Valentine’s Day. Namun, ada juga yang menolaknya dengan alasan itu diadopsi dari budaya 'asing' dan kurang pas jika dikembangbiakan di tanah air kita.

Valentine dianggap hari istimewa dan spesial. Di hari itu orang boleh mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Kapan dan siapa yang mempopulerkan kebiasaan ini di Indonesia ? Sepertinya pertanyaan ini tak perlu dijawab, sebab yang ikutan merayakan Cuma komunitas yang sangat sempit dan tidak berpengaruh pada perkembangan budaya bangsa. Karena itu, di kalangan kawula muda sendiri - Valentine eksistensinya sekadar hadir tanpa harus mengakar.

Banyak tingkah yang dilakukan sekelompok kecil untuk menunjukkan kasih sayang pada orang terdekat seperti sang kekasih. Ada juga antar teman saling bertukar cindera mata atau membagi kado kasih sayang yang diekspresikan dengan bahasa cinta, melalui kartu ucapan atau lewat SMS di ponsel, atau merayakannya secara bersama-sama sambil menikmati makan kesukaan. Namun dalam konteks menjalin tali pergaulan sesama manusia, Valentine barangkali bisa diekspresikan sebagai wahana penyadaran diri akan pentingnya kasih sayang.

Motivasi semacam ini menjadi penting, apalagi disaat bangsa ini sedang dilanda perpecahan dan punya hobby baru bertarung dan saling gontok-gontokan. Nuansa saling serampang makin nampak setelah politisi membius rakyatnya untuk memilih wadah kecil-kecil dalam bentuk 240 partai yang sudah terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM.

Hari kasih sayang itu sebenarnya tidak harus spesial pada 14 Februari saja. Seyogianya kasih itu terus mengalir bagaikan Kasih Kristus yang tiada pandang bulu dan pandang waktu . KasihNya tiada henti walaupun orang kadang tidak menyadari bahwa pada setiap tarikan nafas, kasih itu mengalir sepanjang masa. Di masyarakat komunitas kasih harus diterjemahkan dalam kehidupan manusia yang memandang perlu hidup saling menghormati, saling mengasihi, dan saling berdampingan.

Pandangan Teologis.
Valentine’s Day sebenarnya lahir di kota Roma. Awalnya, ketika musim tanam tiba, diadakan perayaan untuk mengungkapkan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Secara budaya – komunitas masyarakat yang agraris itulah yang memulai hingga akhirnya kebiasaan tersebut menjadi awal dari ide di gelarnya festival. Ternyata perayaan tersebut, memperoleh sambutan yang cukup luas.

Secara historis di Zaman Roma Kuno, hubungan antara pria dan wanita sangat dibatasi dan sulit untuk bertemu. Pada kesempatan acara festival itulah, kaum pria dan wanita memiliki peluang untuk bertemu dan saling mengenal satu dengan lainnya. Salah satu permainan yang menjadi idola yaitu memilih pasangan yang tidak diduga sebelumnya dengan cara diundi. Kalau kita bayangkan hampir sama dengan permainan petak umpet yang sulit kita duga sebelumnya. Tetapi itulah hal yang menarik, karena pasangan yang tak terduga dapat saja terjadi. Dari pasangan itulah, mereka berdua dapat mengekspresikan cinta sesaat dengan bahasa bunga.

Sebenarnya komunitas yang terjadi pada waktu itu, lebih didasari pada ungkapan syukur pada alam semesta. Adapun simbol ucapan syukur itu ditujukan pada dewa-dewi yang telah memberinya kehidupan yang membahagiakan. Namun, nilai-nilai itu kemudian terkikis dengan berkembangnya agama Kristen.

Valentine adalah sebuah nama. Secara simbolis Valentine dijuluki sebagai ”Saint”. Dengan nuansa yang lebih agamis, untuk mengagungkan cinta dan mengungkapkannya tidak hanya pada kehidupan alam semesta saja. Melainkan, keberadaan manusia jauh lebih penting dan pada sang pencipta sajalah – mutlak hal itu ditujukan. Jadi bukan pada dewa- dewi.

Di kalangan bangsawan Eropa hari Valentine menjadi hal yang rutin dirayakan lewat pesta-pesta dan pemberian hadiah yang sifatnya pribadi. Penyair Inggris yang sangat terkenalpun Geoffrey Chaucher ikut simpati untuk menyatakan valentine sebagai hari cinta yang sejati yang dilambangkan sebagai burung merpati.

Di akhir abad 19, kartu Valentine dan bunga diproduksi secara massal dan menjadi simbol hari Kasih Sayang. Hingga sekarang, perkembangan itu semakin meluas dan tidak dapat dibendung oleh waktu dan perjalanan zaman. Kasih bagi kehidupan manusia adalah sumber yang harus dipancarkan. Tanpa Kasih manusia akan kehilangan segala akal dan budi.

Secara kodrati dan imani, pada dasarnya manusia sangat membutuhkan Kasih Sayang sejak di kandungan ibunya. Hingga ia dewasa – pelukan Kasih Sayang tidak bisa dilepaskan dari kandungan ibu pertiwi, sehingga melahirkan komunitas baru yang dapat menghubungkan antar benua, negara, bangsa, suku, agama dan warna kulit serta perbedaan latar belakang budaya.
Manusia dilahirkan untuk mencipta dan memperbaharui kehidupan yang lama menjadi baru. Dan proses pencerahan itu, sangat bertalian erat dengan nilai-nilai teologis. Karena buah dari Kasih Sayang itu – meliputi batas empati kemanusiaan yang tidak dapat diukur dengan apapun. Hanya dengan getaran suara hati nurani, nilai persahabatan itu dapat terwujud dan dinyatakan. Mewakili akan hal itu, bahasa cinta mempunyai kandungan kasih yang sangat dalam.

Geliat Budaya
Di tanah air, perayaan Valentine’s Day mengundang banyak keraguan di kalangan masyarakat. Keraguan itu dikarenakan Valentine datangnya dari negara asing. Sementara, perkembangan tehnologi melesat begitu jauh dan meluncur ke depan bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.. Sedangkan batasan tembok transformasi budaya sangat tipis dan bahkan tidak lagi ada sekat-sekat pemisah.

Melalui saluran jarak jauh yang tidak lagi dihubungkan dengan kabel, membuat kehidupan manusia berubah sangat drastis. Dan kesadaran itu lahir, karena pada dasarnya manusia terus berkembang.. Melalui bahasa cinta, barangkali Valentine sebagai geliat budaya untuk membuka ajang perdamaian melalui ungkapan Kasih Sayang. Sebab bagaimanapun juga Valentine dalam perkembangannya dapat dijuluki sebagai Saint of Lovers.

Valentine’s Day, eksistensinya makin meluas. Bukan hanya melanda pada jiwa dan kebutuhan kawula muda, tetapi sudah merasuk pada sisi kehidupan secara massal. Terbukti, nilai kasih sayang itu tidak hanya tercipta dan untuk memperingati hari-hari istimewa saja. Melainkan, kasih sayang menjadi suatu dinamika dari kehidupan manusia yang sejak dulu hingga sekarang terus berkembang.

Merayakan Valentine Day, Berarti Ikut Menuhankan Yesus

Di hari-hari ini, sesekali pergilah ke mall atau supermarket besar yang ada di kota Anda. Lihatlah interior mall atau supermarket tersebut. Anda pasti menjumpai interiornya dipenuhi pernak-pernik—apakah itu berbentuk pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga—yang didominasi dua warna: pink dan biru muda.

Dan Anda pasti mafhum, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan dengan Valentine Day.

Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, terutama remaja perkotaan. Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih. Valentine Day memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang momentum ini dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali negeri-negeri Islam besar seperti Indonesia.

Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik esensi dari Valentine Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja dengan perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan sebagainya. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda.

Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan semacamnya sedikit pun tidak mengandung muatan religius. Sedangkan Valentine Day sarat dengan muatan religius, bahkan bagi orang Islam yang ikut-ikutan merayakannya, hukumnya bisa musyrik, karena merayakan Valentine Day tidak bisa tidak berarti juga ikut mengakui Yesus sebagai Tuhan. Naudzubilahi min Dzalik. Mengapa demikian?

SEJARAH VALENTINE DAY

Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:

Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.

Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.
Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.

Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.

Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.

TRADISI KIRIM KARTU
Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis.

Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan musim kawin burung-burung dalam puisinya.

Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.

Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!

Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi di dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang ditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.

Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.

Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.

KEPENTINGAN BISNIS
Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkan ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.

Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan Hari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang amat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.


PESTA KEMAKSIATAN
Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke daratan Amerika.

Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara.

Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.

Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary" kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.

Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’ yang sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.

Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.

IKUT MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN
Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?

Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasanya.

Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, maka diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam Islam sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik!

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. ”

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." Wallahu'alam bishawab.(Rz)



Baca selengkapnya!
gravatar

HUKUM ACARA PERDATA

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pemeriksaan persidangan di pengadilan ada yang dinamakan dengan saksi, yang
dimaksud dengan saksi adalah orang dapat memberikan keterangan penyelidikan, penuntutan,
pemeriksaan dan penyidikan di sidang pengadilan baik mengenai tindakan pidana maupun
perdata yang ia dengar sendiri, lihat sendiri dan alami sendiri. Sedangkan korban adalah orang
yang mengalami penderitaan fisi, mental, atau ekonomi yang di akibatkan oleh tindak pidana.


Makalah ini juga menggambarkan tugas hakim yang diantaranya yaitu menerima,
memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya.dan
juga harus mendengarkan segala sesuatu yang ada di dalam persidangan missal, mendengarkan
penuntut umum, saksi dan belaan dari terdakwa (orang yang jadi tersangka ) dalam kasus
tersebut. Namun hakim juga harus berusaha mendamaikan antara kedua belah pihak yang
berselisih. Dalam makalah ini juga membahas tentang bagaimana jalannya persidangan dalam
pengadilan dan juga pemeriksaan di persidangan.
Pemeriksaan dalam persidangan juga harus memperhatikan surat gugatan atau surat
dakwaan yang bisa di ubah sebelum jadwal persidangan di tentukan oleh ketua pengadilan
atau hakim itu sendiri, dan bagaimana tuntutan balik dapat dilakukan, Misalnya: penggugat
menuntut dipenuhinya perjanjian, sedangkan tergugat menuntut diputuskannya perjanjian;
dalam gugat konvensi dituntut pernyataan sah.
Halaman : 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pemeriksaan Dalam Persidangan
Bagi semua pengadilan, tidak hanya dalam pemeriksaan perkara perdata, UU pokok
kekuasaan kehakiman No. 19 Tahun 1964 memuat pasal 12 yang berbunyi :
1. Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum, kecuali apabila dalam UU
ditetapkan lain atau apabila menurut pendapat pengadilan yang disetujui oleh
pengadilan setingkat lebih tinggi, terdapat alasan yang penting.
2. tidak dipenuhinya ketentuan dalam ayat (1) mengakibatkan batalnya putusan menurut
hukum.
Dengan ini dijamin kemungkinan adanya social control atas pekerjaan para hakim. Pada
umumnya dapat di anggap sebagai pokok asas bagi pemeriksaan perkara perdata bahwa hakim
untuk mengambil keputusan yang tepat sebaik-baiknya mendengarkan kedua belah pihak.
Akan tetapi tidak mungkin di tentukan, bahwa pendengaran kedua belah pihak ini harus selalu
dilakukan, karena sulit memakssa para pihak untuk datang menghadap di muka hakim. Ini juga
sesuai dengan sifat hukum perdata, yang pelaksanaannya pada umumnya diserahkan kepada
kemauan yang berkepentingan sendiri ( Wirjono. 1982 : 74 ).
Dalam sistem Reglemen Indonesia, hakim bersifat aktif dalam persidangan dari
permulaan hingga akhir proses persidangan. Sistem Reglemen Indonesia bagi pemeriksaan
perkara dalam sidang adalah bahwa pemeriksaan itu berjalan secara lisan. Hakim mendengar
kedua belah pihak dan kedua belah pihak itu mengajukan segala sesuatu kepada hakim secara
lisan. Sedang panitera pengadilan mencatat segal pemeriksaan dalam suatu catatan sidang
( process verbal ).
Menurut pasal 132 Reglemen Indonesia hakim akan memberi penerangan selayaknya
kepada kedua belah pihak dan akan memperingatkan mereka tentang syarat-syarat hukum dan
alat-alat bukti yang dapat dipergunakannya. Di antara tindakan-tindakan hakim dalam
pemeriksaan perkara yang penting adalah pemanggilan dan pendengaran saksi. Pada pasal 121
Reglemen Indonesia menentukan bahwa pada waktu kedua belah pihak dipanggil untuk
menghadap di muka pengadilan negeri, maka perintahkan untuk membawa orang-orang yang
Halaman : 3
oleh mereka akan diajukan sebagai saksi.
Pada permulaan sidang, dimana kedua belah pihak hadir, hakim diwajibkan untuk
berusaha untuk mendamaikan mereka (pasal 130 ayat (1) Reglemen Indonesia ). Peraturan ini
adalah kurang tepat, karena pada permulaan sidang, hakim belum dapat mengetahui bagaimana
duduk perkara sesungguhnya. Baru setelah pemeriksaan perkara berjalan hakim dapat
mempunyai gambaran tentang duduk perkara dan hakim akan dapat menemui waktu yang tepat
untuk mendamaikan kedua belah pihak, dalam hal ini pada tiap-tiap waktu sampai berakhirnya
proses perdamaian dapat terus diusahakan. Ini sesuai dengan pasal 36 ayat 3 ordomasi P. Adat.
Di pengadilan negeri kemungkinan untuk mendamaikan kedua belah pihak sampai pada saat
berakhirnya proses adalah suatu praktik umum. Dengan dicapainya perdamaian proses
berakhir. Perdamaian tidak bersifat putusan yang ambil atas pertanggung jawaban hakim,
melainkan bersifat persetujuan mereka sendiri.
Dari perdamaian tersebut, dibuat sebuah akte dimana kedua belah pihak diwajibkan
memenuhi persetujuannya. Akte ini mempunyai kekuatan seperti putusan hakim dan dijalankan
pula seperti putusan hakim. Ini sesuai dengan pasal 130 ayat (1) Reglemen Indonesia dan
pasal 36 ayat (3) Ordonnansi P. Adat. Apabila usaha hakim untuk mendamaikan kedua belah
pihak tidak berhasil, maka menurut pasal 131 Reglemen Indonesia hakim akan membacakan
surat-surat yang dikemukakan oleh kedua belah pihak, misalnya surat gugat dan surat jawaban
tergugat.
Menurut pasal 1354 ayat (1) Reglemen Indonesia, hakim harus menyelidiki apakah
terhadap gugatan yang akan diperiksa itu telah ada putusan hakim perdamaian desa. Jika ada,
itu akan menjadi salah satu sumber penting untuk mengetahui bagaimana isi peraturan hukum
adat tentang soal yang menjadi sengketa antara kedua belah pihak. Tetapi apabila tidak ada,
sedang hakim memendang putusan itu akan berfaedah maka haikm akan menunda pemeriksaan
perakara, sampai hari yang akan ditentukan kemudian, yaitu penggugat telah mendapatkan
putusan hakim perdamaian desa seperti yang dikehendaki oleh hakim pengadilan negeri.
Setelah hakim perdamaian desa memberi putusan, maka penggugat memberitahukan putusan
itu pengadilan negeri, apabila ia ingin melanjutkan pemeriksaan gugatannya oleh hakim.
B. Pencabutan dan Perubahan Gugatan
Seseorang yang mengajukan gugatan bermaksud menuntut haknya. Kalau tergugat telah
Halaman : 4
memenuhi tuntutan penggugat sebelum perkara diputuskan, maka tidak ada alasan lagi untuk
melanjutkan tuntutannya bagi penggugat. Oleh karena itu penggugat sepenuhnya berhak untuk
mencabut gugatan atau tuntutannya. Kemungkinan lain sebagai alasan pencabutan gugatan
ialah karena penggugat menyadari kekeliruannya dalam mengajukan gugatannya.
Pencabutan gugatan dapat dilakukan sebelum gugatan itu diperiksa di persidangan atau
sebelum tergugat memberi jawabannya atau sesudah diberikan jawaban oleh tergugat.
Pencabutan gugatan tidak langsung menghentikan atau menunda tuntutan pidana selan tuntutan
pidana berjalan. Maka tuntutan ganti kerugian dalam perkara perdata yang timbul dari
perbuatan pidana tersebut terhenti atau ditunda. Menurut pasal 127 Rv perubahan daripada
gugatan dibolehkan sepanjang pemeriksaan perkara, asal saja tidak mengubah atau menambah
“onderwerp van den eis” (petitum, pokok tuntutan). Pengertian “onderwerp van den eis “ ini di
dalam praktek meliputi dasar dari pada tuntutan, termasuk peristiwa-peristiwa yang menjadi
tuntutan.
C. Putusan Gugur
Suatu perkara perdata dapat diputuskan secara contradictoir atau di luar hadirnya salah satu
pihak yang berperkara. Perkara diputuskan secara contradictoir apabila kedua belah
pihak hadir di persidangan pada hari sidang yang ditetapkan, sedsangkan kalau salah sastu
pihak saja yang hadir maka diputus diluar hadirnya salah satu pihak. Dalam hal ini gugatan
penggugat dinyatakan gugur serta dihukum untuk membayar biaya perkara (ps. 24 HIR, 148
Rbg).. tetapi kepada penggugat diberi kesempatan untuk mengajukannya lagi dengan
membayar biaya perkara.
D. Putusan di Luar Hadir (Verstek)
Kalau tergugat tidak datang setelah dipanggil dengan patut, maka gugatan dikabulkan
dengan putusan di luar hadir atau verstek, kecuali kalau gugatan itu melawan hak atau tidak
beralasan. Kata verstek itu sendiri berarti pernyataan bahwa tergugat tidak datang pada hari
sidang pertama.
Jika gugatan tidak bersandarkan hukum, yaitu apabila peristiwa-peristiwa sebagai dasar
tuntutan tidak membenarkan tuntutan, maka gugatan akan dinyatakan tidak diterima (niet
ontvankelijk verkaard ); jika gugatan itu tidak beralasan, yaitu apabila tidak ajukan peristiwa-
Halaman : 5
peristiwa yang membenarkan tuntutan, maka gugatan akan ditolak. Putusan verstek atau diluat
hadir tergugat ini dijatuhkan kalau tergugat tidak datang hari sidang pertama. Kalau tergugat
pada hari sidang pertama datang kemudian tidak datang, maka perkaranya diperiksa secara
contradictoir.
E. Pengaruh Keadaan Para pihak terhadap Jalannya Persidangan
Kalau salah satu pihak meninggal dunia, maka pemeriksaan perkara, setelah kematian
diberitahukan, terhenti (schorsong, ps. 248 Rv). Sejak terhentinya pemeriksaan maka segala
tindakan-tindakan prosesuil tidak sah (ps. 250 ayat 3 Rv)/ gugatan kemudian dapat dilanjutkan
oleh ahli warisnya. Meninggalnya wakil menyebabkan berhentinya jalannya pemeriksaan (ps.
250 ayat 2 Rv). Tindakan wakil yang dilakukannya di dalam persidangan atas nama client
yang diwakilinya, sedankan ia tidak mendapt kuasa dari yang diwakilinya untuk itu, akan
menyebabkan berhentinya jalannya persidangan juga (ps. 256 Rv).
F. Pengaruh Lampau Waktu Terhadap Jalannya Persidangan
Seseorang yang mempunyai sesuatu hak atau hubungan hukum dapat mengajukan tuntutan
hak. Apabila seseorang tidak lagi mempunyai sesuatu hak, apbila haknya karena sesuatu hal
lenyap, maka ikut lenyap pulalah tuntutan haknya. Menurut pasal 1967 BW semua tuntutan hak
baik yang bersifat kebendaan maupun perorangan hapus (kadaluwarsa) setelah lampau waktu
30 tahun, sedangkan siapa yang menunjukkan adanya kadaluwarsa itu tidak perlu menunjukkan
adanya als hak, lagi pula tidak dapat diajukan terhadapnya suatu tangkisan yang didasarkan
pada iktikad buruk..
H. Tugas Hakim
Tugas pokok daripada hakim adalah menerima, memeriksa dan mengadili serta
menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya (ps. 2 ayat 1 UU. 14/1970). Hakim
menerima perkara, jadi dalam hal sikapnya adalah pasif atau menunggu adanya perkara
diajukan kepadanya dan tidak aktif mencari atau mengejar perkara (two kein Klager ist, ist kein
Richter;nemo judex sine actori). Sebelum menjatuhkan putusannya hakim harus
memperhatikan serta mengusahakan seberapa dapat jangan sampai putusan yang akan
dijatuhak nanti memungkinkan timbulnya perkara baru.
Halaman : 6
Tugas hakim tidak berhenti dengan menjatuhkan putusan saja, akan tetapi juga
menyelesaikannya sampai pada pelaksanaannya. Tampaklah disini peranan hakim yang aktif
terutama dalam mengatasi hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang
cepat. Hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara yang
diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, melainkan wajib untuk
memeriksa dan mengadilinya (ps 14 ayat 1 UU. 14/1970). Andaikata peraturan hukumnya tidak
atau kurang jelas sebagi penegak hukum dan keadilan ia wajib menggali, mengikuti dan
memahami hilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat (ps. 27 ayat 1 UU/ 14/1970).
Kalau diajukan kepadanya suatu perkara, hakim haruslah pertama-pertama mengkonstatir
benar tidaknya peristiwa yang diajukan itu. Mengkonstatir berarti melihat, mengakui atau
membenarkan telah terjadinya peristiwa yang telah diajukan tersebut. Setelah hakim berhasil
mengkonstatir peristiwanya, tindakan yang harus dilakukannya kemudian ialah mengkwalifisir
peristiwanya itu. Mengkwalifisir berarti menilai peristiwa yang telah dianggap benar-benar
terjadi itu termasuk hubungan hukum apa atau yang mana, dengan perkataan lain : menemukan
hukumnya bagi peristiwa yang telah dikonstatir.
Jadi, mengkwalifisir pada umumnya berari menemukan hukumnya degan jalan menerapkan
peraturan hukum terhadap peristiwa, suatu kegiatan yang pada umumnya bersifat logis. Tetapi
dalam kenyataannya menemukan hukum tidak sekedar menerapkan peraturan hukum terahdap
peristiwanya saja. Lebih-lebih kalau peraturan hukumnya tidak tegas dan tidak pula jelas.
Maka dalam hal ini hakim bukan lagi harus menemukan hukumnya, melainkan
menciptakannya sendiri.
Mengkwalifisir peristiwa mengandung unsur kreatif seperti yang telah
dikemukakan di atas dan ini sekaligus berarti juga melengkapi undang-undang. Maka oleh
karena itu daya cipta hakim besar sekali peranannya. Ia harus berani menciptakan hukum yang
tidak bertentangan dengan keseluruhan sistim perundang-undangan dan yang memenuhi
pandangan serta kebutuhan masyarakat atau zaman.
Dalam tahap terakhir, sesudah mengkonstatir dan mengkwalifisir peristiwa, hakim harus
mengkonstituir atau memberi konstitusinya. Kalau dibandingkan kedudukan atau posisi hakim
dengan pengacara dan jaksa, maka hakim mempunyai kedudukan yang obyektif, karena ia
fungsionaris yang ditunjuk untuk memeriksa dan mengadili perkara, tetapi pernilaiannyapun
adalah obyektif pula karena ia harus berdiri di atas kedua belah pihak dasn tidak bole memihak,
Halaman : 7
sedangkan pengacara kedudukannya adalah subyektif karena ia ditunjuk oleh salah satu pihak
untuk mewakili di persidangan dsan pernilaiannyapun juga subyektif karena ia harus membela
kepentingan klien yang diwakilinya. Seorang jaksa kedudukannya adalah obyektif karena ia
ditunjuk sebagai fungsionaris untuk mangajukan tuduhan dan tuntutan, tetapi pernilaiannya
adalah subyektif karena ia dalam hal ini mewakili negara dalam memelihara ketertiban umum.
I. Jawaban
Di dalam HIR tidak ada ketentuan yang mewajibkan tergugat untuk menjawab gugatan
penggugat. Pasal 121 ayat 2 HIR (ps. 145 ayat 2 Rbg) hanya menentukan bahwa tergugat dapat
menjawab baik secara tertulis maupun lisan. Jawaban tergugat dapat berupa bantahan
(verweer), Pengakuan berarti membenarkan isi gugatan penggugat, baik untuk sebagian
maupun untuk seluruhnya, sehingga kalau tergugat membantah, penggugat harus
membuktikan.
Pasal 113 Rv mensyaratkan agar bantahan tergugat itu disertai alasan-alasan. Bantahan
(verweer) pada hakekatnya bertujuan agar gugatan penggugat ditolak, dan bantahan tergugat
ini dapat berdiri dari tangkisan atau ekepsi dan sangkalan. Pada umumnya yang diartikan
dengan eksepsi ialah suatu sanggahan atau bantahan dari pihak tergugat terhadap gugatan
penggugat yang tiak langsung mengenai pokok perkara, yang berisi tuntutan batalnya gugatan.
Sedangkan yang dimaksud dengan sangkalan (verweer ten principale) adalah sanggahan yang
berhubungan dengan pokok perkara.
J. Gugatan Balik (Gugatb Rekonvensi)
Gugatan dari pihak tergugat ini disebut gugat balik atau gugat rekonvensi. Jadi, gugat
rekonvensi adalah gugatan yang diajukan oleh tergugat terhadap penggugat dalam sengketa
yang sedang berjalan antara mereka. Kesempatan mengajukan gugatan rekonvensi ini
diberikan oleh pasal 132 a dan 132b HIR (ps.157.158 Rbg) yang dialihkan dari Rv dsan
disisipkan pada tahun 1927 (S 1927 no. 300).
Misalnya: penggugat menuntut dipenuhinya perjanjian, sedangkan tergugat menuntut
diputuskannya perjanjian; dalam gugat konvensi dituntut pernyataan sah dan beharga dari suatu
sita konservatoir, sedangkan dalam rekonvensi dituntut pengangkatan sita konservatoir tersebut
dengan disertai ganti kerugian; karena terjadinya tabrakan mobil antara penggugat dengan
Halaman : 8
tergugat, maka penggugat menuntut ganti kerugian kepada tergugat karena kesalahan terletak
pada tergugat, dalam rekonvensi tergugat menuntut kerugian kepada penggugat dengan alasan
bahwa penggugatlah yang salah.
Gugatan rekonvensi harus diajukan bersama-sama dengan jawaban tergugat, baik tertulis
maupun lisan (ps. 132b (1) HIR. 158 (1) Rbg). Ini tidak berarti bahwa gugat rekonvensi itu
harus diajukan pada hari sidang pertama. Dalam duplikan gugat rekonvensi itu masih dapat
diajukan.
K. Jalannya Persidangan
Pada hari sidang yang telah ditetapkan, hakim ketua sidang yang didampingi oleh panitera,
membuka sidang dan menyatakan sidsang terbuka untuk umum. Sifat terbuka untuk umum ini
merupakan syarat mutlak (ps. Ayat 1 dan 2 UU. 141970). Tehadap terbukanya sidang untuk
umum ada pembatasannya yaitu apabila undang-undang menentukan lain atau berdasarkan
alasan-alasan penting menurut hakim yang dimuat dalam berita acara atas perintahnya (ps. 27
ayat 1 UU. 14/1970.29 RO). Dalam hal ini maka pemeriksaan dilakukan dengan pintu tertutup.
Pemeriksaan perkara harus berlangsung dengan hadirnya kedua belah pihak. Kalus salah
satu pihak saja yang hadir, maka tidak boleh dimulai dengan pemeriksaan perkara, tetapi
sidang harus ditunda. Kedua belah pihak harus didengar bersama, kedua belah pihak harus
diperlakukan sama. Selanjutnya hakim harus mengusahakan mendamaikan kedua belah pihak
(ps. 130 HIR, 154 Rbg). Apabila mereka berhasil didamaikan, maka jatuhkanlah putusan
perdamaian (acte van vergelijk),yang menghukum kedua belah pihak untuk memenuhi isi
perdamaian yang telah dicapai. Jiak kedua belah pihak tidak berhasil didamaikan, hal itu harus
dimuat dalam berita acara. Kemudian dimulailah dengan pembacaan surat gugat (ps. 131 ayat
1, 155ayat 1 Rbg). Atas gugatan penggugat tergugat diberi kesempatan unutk memberi
jawabannya dimuka pengadilan, baik secara tertulis maupun lisan. Pada prinsipnya
pengunduran sidang hanya dibolehkan apabila ada alasan yang sangat mendesak.
Penundaan sidang atas permintaan para pihak sering merupakan salah satu taktik untuk
mengulur-ulur waktu. Justru inilah yang hendak dicegah oleh pasal 159 ayat 4 HIR (ps. 186
ayat 4 Rbg). Kalau dari jawab-menjawab antara penggugat dan tergugat telah diketahui apa
yang menjadi pokok sengketa, maka jawab-menjawab dianggap cukup dan dinyatakan selesai
oleh hakim dan dimulailah dengan pembuktian.
Halaman : 9
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijabarkan pad Bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan
bahwa dalam pemeriksaan dalam persidangan dapat berjalan secara lisan maupun tertulis.
Hakim harus bersifat aktif dalam menyelesaikan setiap perkara, hakim juga harus mengambil
keputusan juga harus mendengar kedua belah pihak, termasuk juga saksi-saksi yang terlibat
dalam perkara tersebut.
Pada awal sidang, hakim harus berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Apabila
perdamaian itu tercapai, maka proses perkara berkhir kemudian kedua belah pihak diwajibkan
memenuhi persetujuan yang telah mereka buat dalam akte perdamaian yang mempunyai
kekuatan hukum.
Saran
Didalam pembuatan makalah ini, mungkin masih terdapat kesalahan baik hal materi maupun
penjelasannya, maka dari itu penulis meminta kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk
kelancaran mata kuliah Hukum Acara Perdata ini khususnya pada tema “Pemeriksaan di
Persidangan “.
DAFTAR PUSTAKA
Mertokusumo, sudikno, 2002, Hukum Acara Perdata Indonesia, Leberty : Jogyakarta
Halaman : 10

Baca selengkapnya!
gravatar

Kader Itu... KITA!!!

8 Dzulhijjah 1430 yang lalu, atau tepatnya tanggal 25 Nopember 2009 menurut kalender masehi, Muhammadiyah menggenapi usianya yang ke 100. Selama seabad perjuangannya, Muhammadiyah bukan hanya mampu meletakkan posdasi perjuangan saja, lebih dari itu, Muhammadiyah telah membangun kokoh pergerakannya dimana saat ini Muhammadiyah mampu memposisikan diri menjadi ormas terbesar.
Dalam rangka meneruskan usahanya, Muhammadiyah memerlukan tumbuhnya kader pelopor, pelangsung dan penyempurna cita-cita sekaligus sebagai stabilisator, dinamisator gerak dan perjuangannya. Untuk itulah, IMM memposisikan diri “wadah perjuangan untuk menghimpun, menggerakkan dan membina potensi mahasiswa Islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa, sehingga tumbuh kader-kader yang memiliki kerangka berpikir ilmu amaliyah dan kader amal ilmiah sesuai dengan kepribadian Muhammadiyah. Kesemuanya itu dilaksanakan secara bersama dengan menjunjung tinggi musyawarah atas dasar iman dan taqwa serta hanya mengharap ridha Allah SWT.” (Muqaddimah AD IMM).
Lantas, sudahkah kita mengambil peran tersebut?. Sejatinya, selama ini kita telah turut serta mengambil bagian dari hal tersebut. Dengan jumlah kader yang tidak banyak serta kesibukan masing-masing pribadi kita, kitapun mampu ambil peran dalam hal ini. Namun masalahnya adalah waktu tidak hanya berhenti sampai saat ini. Dengan perputaran waktu, berarti secara internal IMM sendiri memerlukan penerus untuk membentuk GOG (Good Organizing Goverment) serta melanjutkan perjuangan ke depan. Lalu siapakah kader penerus tersebut?
Jika kita mau berfikir secara lebih mendalam, maka kader penerus IMM Kom. FAI adalah kita semua, kita yang telah dialiri darah perjuangan Muhammadiyah, kita yang telah mendapat pendidikan dan jasa baik perjuangan Muhammadiyah, kita yang telah mendapat beastudi persyarikatan Utusan Daerah Muhammadiyah. Serta kita yang merasa telah mendapat sesuatu dari Muhammadiyah. Kita semua adalah kader penerus ikatan ini, maka kejayaan ikatan ini berada dalam genggaman kita semua, bukan dimonopoli oleh orang dan kelompok tertentu. Mari bersama kita perjuangkan nilai luhur ikatan ini dalam wujud nyata.


MOTIVASI :
KHA Dahlan Pernah Berkata “Agama Islam tidak akan lenyap dari muka bumi, tapi tidak mustahil Islam akan lenyap dari muka bumi Insonesia”





Baca selengkapnya!

About Me

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khoirot

Papan Ngobrol


ShoutMix chat widget