-->

IKLAN SPESIAL

TELAH DIBUKA

KEDAI PENGETIKAN
"BUMI PENA"

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)
KOMISARIAT FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Menerima :

Pengetikan (Rp. 1.400,-/lbr)
Print BW (Rp. 350/lbr)
Print Colour (Rp. 1.500/lbr)
Desain Grafis (Harga Nego)

Office : Jl. Gembili II-1 Wonokromo, Surabaya
(Depan Komplek Muhammadiyah Gadung)
Cabang : Jl. Sutorejo Surabaya
(Depan Kampus UMSurabaya)

Contact Person : 0857 344 222 13
gravatar

ALPOPHOBIA (Kisah seorang pembanci alpukat)





by : masterfajar.tk

Biarpun dianggap aneh, yang pasti aq adalah orang yang anti dengan yang namanya alpukat. Bermula kejadian saat aku muda, dimana ketika aku diberi sekilo alpukat oleh seseorang, ternyata isinya penuh ulat dan belatung semua. Semenjak saat itulah aku menjadi orang yang phobia dengan alpukat. Jangankan memakannya, melihatnyapun aku tak mau. Akupun tak pernah membelikan ataupun membawakan alpukat untuk keluargaku tercinta. Memang putriku yang kini telah tumbuh menjadi gadis jelita aku penuhi dengan berbagai macam gizi dari buah-buahan, tetapi ada pengecualian, yakni alpukat. Suatu hari, putriku bertanya “Papa, Kenapa sich aku ga pernah dibelikn buah itu?” aku jawab “Buah yang mana, sayang?”. Kata dia “Ya itu, buah hijau yang biasanya dijual di toko buah pojok itu lho pa,”. Spontan aku jawab “Aduh putriku sayang, itu buah rasanya tidak enak, Lebih pahit daripada obat, pokoknya tidak enak sekali putriku,” kataku. “Lantas mengapa banyak orang yang membelinya, pa?” tukasnya. “Oh, itu karena mereka bodoh, putriku, mereka tidak tahu bahwa gizi di buah alpukat itu sangat sedikit, namun racunnya banyak, makanya papa ga pernah beliin buat kamu, karna buah itu beracun.”. “Oh, begitu ya pa?”. “Iya putriku,”.
Keesokan harinya, aku bertemu dengan putriku di pasar buah ketika ia sepulang sekolah berjalan-jalan bersama temannya, sementara aku sendiri baru pulang kerja dan berniat belanja buah-buahan untuk keluargaku. Saat itu, putriku berdiri mematung sambil memegang buah alpukat. Kontan darahku mengalir ke ubun-ubun dan dipenuhi rasa marah karena segitu beraninya putriku memegangi buah yang paling aku benci tersebut. Seketika aku menghampiri putriku dan langsung menyeretnya keluar dari pasar buah tersebut, memisahkannya dengan kawan-kawannya, serta membawanya ke mobil. Di dalam mobil aku menggeledah isi tasnya, ternyata di dalamnya tidak terdapat buah alpukat secuilpun. Akupun sedikit merasa tenang karenanya. Namun yang sedar tadi aku tidak sadar adalah ternyata tangan kiri anakku saat itu menggenggam sebuah plastik berisi minuman yang sepertinya berisi es. Akupun bertanya kepadanya “es apa itu?”. “Bukan apa-apa koq pa, cuma jus buah.”. “Jus buah apa??” tanyaku dengan nada yang lebih tinggi. Perlahan ia menjawab “Jus Alpukat.”. Oh tuhan,,,


About Me

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khoirot

Papan Ngobrol


ShoutMix chat widget