Welcome to "Mahasiswa"
I. Prolog
Mengutip kata pepatah lama, tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, warna hidup kitapun berganti. Pernah kita alami warna merah dan putih mendominasi pakaian kita, yang kemudian digantikan dengan biru putih lantas dengan abu-abu-putih. Pla pikir yang kita rasapun sedikit demi sedikit terjadi perubahan yang kian menanjak. Hingga akhirnya tibalah kita pada saat ini dimana telah kita tinggalkan kenangan itu dan kita tanggalkan seragam itu. Kini satu predikat lagi yang menempel dalam diri kita, yakni “Mahasiswa”.
Namun sudah siapkah kita guna menyandang predikat yang tidak gampang tersebut?. Hal itu terletak pada sejauh mana kita dapat mengetahui serta membedaan antara jenjang yang telah kita lalui dan jenjang yang akan serta sedang kita jalani, atau lebih tepatnya sejauh mana kita mengetahui perbedaan antara siswa dengan mahasiswa. Banyak diantara mahasiswa baru atau bahkan mahasiswa lama yang kurang memahami hal ini sehingga kurang dapat memposisikan dirinya pada tempat yang selayaknya. Ia terkadang tidak tampak sebagai mahasiswa bahkan cenderung seperti preman saat dia melakukan anarki dan kejadian yang menyulut kekerasan yang lain.
II. Memang Beda
Jika kita telusuri perbedaan yang terdapat diantara keduanya, maka kita akan mendapati setidaknya 4 perbedaan berdasarkan tinjauan yang kita gunakan yakni
1. Tinjauan Pustaka
Secara pustaka, keduanya jelas berbeda. Siswa dalam banyak perspektif dimaknai sebagai pelajar di tingkatan Sekolah Dasar hingga Menengah, terlepas dari pendidikan non formil yang bisa saja menyebut pelajarnya dengan sebutan apapun. Ketika telah melewati jenjang tersebut, maka predikat yang ia sandang bukan lagi siswa melainkan Mahasiswa.
2. Tinjauan Historis
Dari segi sejarah, ada hal yang cukup unik tentang perbedaan diantara keduanya. Contohnya yakni pada era penjajahan belanda dimana pendidikan yang paling banyak dilakukan oleh penduduk adalah SR (Sekolah Rakyat). Sedikit sekali diantara mereka yang bisa sekolah di jenjang atasnya kecuali orang tersebut memiliki kelebihan ekonomi. Apalagi untuk mencapai sekolah kesarjanaan. Baru pada pasca sumpah pemuda, kita merasakan pendidikan yang lebih baik.
3. Tinjauan Fisik
Jelas, seiring berbedanya jenjang usia maka perbedaan fisik juga menjadi akibat dari hal tersebut. Siswa cenderung memiliki postur tubuh yang lebih kecil dikarenakan faktor usia. Namun tidak jarang kita menemui orang dengan kecacatan fisik dimana usia yang ia miiki relativ banyak namun memiliki postur yang tidak seberapa atau bahkan kurang dari rata-rata. Sebenarnya tinjauan ini tidak perlu saya sampaikan, namun agar tampak objektif maka saya coba untuk mengugkapkannya di sini.
4. Tinjauan Psikologis
Selayaknya, mahasiswa dapat berfikir secara lebih matang daripada siswa. Karena bertambahnya usia, pengetahuan dan pengalaman membuat pola pikirpun bertambah maju. Dalam kondisi tertentu dimana akal sehat sudah tidak lagi menjadi senjata utama, kita sering menemui sosok mahasiswa yang masih berfikiran kekanak-kanakan. Proses pendewasaan yang kurang tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor seperti lingkungan, keluarga, atau bahkan dikarenakan hal yang bersifat pribadi sehingga ia merasa nyaman dengan gaya kekanak-kaqnakannya. Sikap yang seperti ini memang kadang diperlukan, namun ketika menghadapi masalah yang kompleks hal tersebut sama sekali tidak diperlukan bahkan cenderung negatif apabila kita lakukan dalam kondisi itu.
III. Penutup
Dari paparan singkat tersebut diatas akan dapat kita tarik kesimpulan bahwa jelas terdapat perbedaan diantara keduanya. Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dan kita dapat mengerti pada posisi mana kita berada sehingga perilaku kita benar benar sesuai hal yang harus terjadi. Maka semoga kita dapat menumbuh kembangkan organisasi yang kita ikuti, dan semoga setiap gerak dan perjuangan kita diridlai Allah SWT, Amin
